Headlines News :

Skor Aneh dan Unik Babak Perempat Final Liga Champion 2013

Dunia sepakbola memang selalu mempunyai banyak kejutan, keanehan dan keunikan tersendiri. Apalagi dalam hal ini, liga yang digelar tahun ini. Liga champion pun tak luput dari berbagai kejuatan, keanehan dan keuinikan itu. Dalam setiap pertandingan dan laga yang ada di liga champion, banyak memunculkan berbagai macam kejutan, keanehandan keunikan tersebut. Baik itu terjadi di lapangan maupun di luar lapangan.

Berbagai keanehan dan kenuikan yang terjadi di lapangan, pemain banyak yang bertingkah aneh dan unik, yang sempat bikin heboh seluruh penoton yang ada di dalam stadion. Tingkah aneh dan unik para pemain ini, terlebih saat mereka melakukan selebrasi setelah mencetak sebuah gol ke gawang lawan. Ada yang melepas sepatu kemudian sepeti layaknya sedang telpon seseorang, ada yang berlari dengan gaya aneh, menari ala kelompok indian, dan seakan menembak berung terbang, dan berguling-guling sambil memegangi kaki seakan cedera dan masih banyak keanehan dan keunikan lagi yang dilakukan oleh pemain di lapangan.

Dan berbagai keanehan dan keunikan yang terjadi bukan soal pemain yang ada di lapangan saja, bahkan para pelatih, suporter fanatik klub, wasit dan banyak pula berbagai keanehan dan keunikan yang kerap dilakukan tanpa mereka sadari. Yang sering mengundang gelak tawa bagi siapa saja yang menyaksikannya. semua ini bisa anda dapatkan di dunia sepakbola padahal sepakbola adalah olahraga tubuh. Jauh banget dari segi ke-lucu-an. Juga bukan semacam acara srimulat dan adegan lelucon yang sering mengunda gelak tawa penonton dan pemirsanya. 

Dan kejadian yang unik dan aneh lagi, dan bahkan paling aneh dan unik adalah terkait skor yang muncul dalam pertandingan di babak perempat final tahun ini. Entah ini faktor kesengajaan atau bukan. tapi saya menilainya itu bukan suatu faktor kesengajaan dan kebetulan yang dibuat dan di desain oleh para pemain dan klub yang sedang bertanding. Tapi yang bertanding adalah delapan klub eropa dan ada empat pertandingan. Saya rasa sangat sulit untuk dikatakan itu faktor kebetulan semata.

Keunikan dan keanehan skor pertandinngan yang pertama terjadi pada 3/3/2013 lalu, di hari itu ada dua pertandingan yakni antara PSG vs BARCELONA dengan skor akhir 2-2 dan laga antara Munchen vs juventus skor akhir 2-0. 

Kemudian pertadingan antara Madrid vs Galatasaray dengan skor akhir 3-0. Lalu laga antara Malaga vs Dortmund dengan skor Akhir 0-0. 

Maka, ketika kita melihat skor diatas, sekilas skor itu adalah hal yang lumprah dan biasa terjadi dalam sepakbola. Namun, jika kita telisik lebih dalam maka akan muncul keunikan dan keanehan tersebut. Pertama skor yang muncul adalah 2-2 dan 2-0, jika di hitung angaka 2 berjumlah tiga dan 0 ada satu. Pertandinag kedua, skor yang muncul adalah 3-0 dan 0-0, jiak dihitung angak 3 ada satu dan angka 0 berjumlah 3.

Dan ini bukan faktor kebetulan, skor yang muncul di pertandingan tersebut. Dan angka tiga sama dengan laga pertama itu digelar yanki tanggal 3 april 2013.
Keunikan lainnya, jika skor itu dijumlah semuanya : 2+2+2+0+3+0+0+0= 9. Dan sesuai jadwal laga kedua akan digelar pada tanggal 9 dan 10 April 2013 nanti. Aneh dan uniknya angka 9 dari jumlah keseluruhan skor sama dengan tanggal laga kedua babak perempat final yang akan digelar nanti. 

Dan itulah berbagai keanehan dan keunikan yang terjadi di babak perempat final liga champion tahun ini. Entah sebagai faktor kebetulan atau bukan. Namun itulah yang terjadi dan saya rasa itu adalah sebuah keunikan dan keanehan. Dan saya ras itu bukan suatu kebetulan dalam Liga Champion tahun ini. 

Salam Sepakbola

silangkan baca pula disini

Substansi PSSI Masih Samar

Berbicara mengenai Sejarah sepakbola Indonesia, khususnya PSSI sebagai induk sepakbola di Indonesia. Pada beberapa tahun ini, sedang terkena serangan virus yang amat susah dicari penangkalnya. Dari berbagai macam cara teah dilakukan, hasilnya tetap nihil dan tak membuahkan hasil sama sekali. Praktis virus membahayakan itu dengan cepat menjalar keberbagai sisi ruang yang ada di PSSI. Akhirnya PSSI yang digadang-gadang mampu manjadi wadah yang bisa menampung segal urusan dunia persepakbolaan indonesia harus di-Scan ulang bahkan di install ulang, agar segala virus yang bisa mematikan langkah PSSI untuk berkembang bisa hilang dan musnah untuk selamnya. 

Akibat dari virus yang berbahaya tersebut. Seringkali kita menjumpai berbagai gejolak dan polemik yang panjang yang tak jua kunjung usai. Dualisme kepengurusan yang ada di tubuh PSSI. Dan virus semacamnya. Disinyalir menjadi pemicu utama tetap langgengnya polemik itu terus bergulir dan bahkan sulit ditemukan solusi penwarnya. Sehingga PSSI tak bisa mengaplikasikan fungsi dan tugasnya secara baik, elegan dan profesional. 

PSSI terkesan masih telalu bias, samar dan campur aduk keberadaannya. subtansi-nya tidak ada sama sekali, bentuknya memang ada tapi esensi-nya nihil. Ironis memang jika melihat kondisi tersbnut. PSSI saat ini belum bisa dikatakan layak sebagai wadah yang sangat ideal bagi dunia sepakbola Indonesia. faktanya lapangan masih banyak faksi-faksi tetap berseliweran di tubuh PSSI. Yang mana bila keadaan tersebut dibiarkan terlalu lama. Maka, tak ayal PSSI tidak akan pernah bisa solid dan profesional dalam mengurus sepkabola agar lebih baik dan bisa dibanggakan semua warga indonesia. 

Justru yang ada malah perpecahan yang akan terus terjadi. Alhasil, mereka bukannya mendahulukan kepentingan sepakbola Indonesia secara utuh yang ada malah lebih senang mendahulukan kepentingan golongan/kelompok tertentu. Dan apa boleh buat, PSSI hanya akan menjadi sebuah lembaga yang tak punya kekuatan dan kewibawaan sama sekali di mata masyarakat indonesia bahkan dunia. Nampaknya PSSI akan terus dalam lingkaran setan dan terjangkit virus yang sang mematikan dan meluluhlantahkan sendi-sendi di tubuh PSSI sendiri.
 
Di lain sisi, keberadaan Masyarakat Indonesia Secara menyeluruh. Dari Sabang sampai Merauke. Yang selama ini Sebagai penikmat dan pendukung sejati bagi sepakbola Indonesia. Merasa turut prihatin dan semakin miris, bila harus melihat kondisi pssi yang kurang sehat tersebut. Bagaimana tidak, karena sebagian besar masyarakat sudah merasa memiliki PSSI. Dan faktor yang juga mempunyai andil besar dalam perkembangan sepak bola tanah air ini. 

Mimpi dan harapan masyarakat idndonesia, hanya akan tetap menjadi mimpi dan harapan semu belaka. Telah lama masyarakat merindukan sebuah tatanan PSSI dan dunia sepakbola Indonesia yang bagus dan profesional. Layaknya sistem sepakbola di Negara yang lebih maju sepkbolanya yang ada di berbagai belahan dunia. Harapan besar masyarakat indonesia ini, hendaknya bisa jadi sebuah lecutan semangat bagi PSSI saat ini, meski dalam keadaan kurang sehat. Untuk secepatnya melakukan perbaikan secara menyeluruh agar terbebas dari virus yang mematikan yang semapat menjangkiti tubuh pssi ini. 

Semoga bukan mejadi kesalahan terbesar kami. Saat kami mempercayakan kepadamu sebuah mandat agung ini, Akan nasib PSSI dan sepakboal indonesia kedepan Agar bisa selagkah lebih maju dan berjaya selamanya.
Salam Sepakbola

silahkan baca juga disini

Meninjau kembali PSSI hasil Tragedi KLB

Dalam sejarah sepakbola Indonesia, khususnya PSSI sebagai induk persepakbolaan di Indonesia. Baru kali ini kita menjumpai berbagai gejolak dan polemik yang panjang yang tak jua kunjung usai. Dualisme kepengurusan yang ada di tubuh PSSI. Disinyalir menjadi pemicu utama tetap langgengnya polemik itu terus bergulir dan bahkan sulit ditemukan solusinya.

PSSI sekarang masih telalu bias, samar dan campur aduk keberadaannya. Malahan belum bisa dikatakan sebagai wadah yang sangat ideal bagi dunia sepakbola Indonesia. faktanya masih banyak faksi-faksi yang ada di tubuh PSSI. Yang mana bila keadaan tersebut dibiarkan terlalu lama. Maka, tak ayal PSSI tak akan pernah bisa solid dan profesional dalam mengurus sepkabola. Justru yang ada malah perpecahan yang akan terjadi. Ujung-ujungnya mereka bukannya mendahulukan kepentingan sepakbola Indonesia secara utuh yang ada malah mendahulukan kepentingan golongan/kelompok tertentu. 

Disisi lain, Secara keseluruhan Masyarakat Indonesia. Sebagai penikmat dan pendukung sejati sepakbola Indonesia. Akan merasa semakin miris dan prihatin melihat kondisi tersebut. Bagaimana tidak, karena sebagian besar masyarakat merasa memiliki dan memimpikan tatanan PSSI dan persepakbolaan indonesia yang bagus dan profesional. Layaknya tatanan sepakbola di Negara maju yang ada dunia. walaupun ada juga sebagian kecil masyarakat yang tidak merasa risau dan gelisah akan virus (polemik) yang merasuk dalam tubuh PSSI ini. Namun, setidaknya itu bisa jadi catatan bagi PSSI saat ini, untuk melakukan perbaikan secara menyeluruh demi terciptanya PSSI dan sepakbola Indonesia ke depan lebih baik lagi. 

Pemerintah dalam hal ini, mengambil sikap menengahi antara kedua faksi di tubuh PSSI yang beberapa tahun ini santer di perbigangkan masyarakat indonesia. Dan mencoba memberikan solusi alternatif agar kedua faksi ini bersatu kembali. Karena jika hal itu, yakni dualisme PSSI (KPSI/PSSI) masih tetap ada. Indonesia akan mendapatkan sanksi dari FIFA bahkan terancam bisa di coret dari daftar FIFA. Dan ini tentunya sangat berat bagi pemerintah. Dan setelah mengalami proses yang panjang akhirnya kedua faksi itu mau duduk bersama dan bersepakat untuk bersatu kembali. Maka, kemudian digelarlah Konggres Luar Biasa (KLB) PSSI, pada Tanggal 17 Maret 2013 di Hotel Borobudur Jakarta lalu. 

Namun, apa yang terjadi. Kekisruhan dan dualisme PSSI masih membayangai PSSI hasil KLB kemarin. Walaupun secara resmi mereka telah melebur mejadi satu. Dan itu akan mempersulit bagi PSSI dan perkembangan Sepakbola Indonesia jika kondisi tetap sama seperti pra KLB dulu. Dan bukti yang masih segar adalah saat Indonesia lawan Arab Saudi kemarin. Praktis, faksi itu masih sangat kentara sekali. Misalnya dalam hal formasi pemain, yang sempat manjadi sorotan. Tanpa bermaksud menyudutkan (PSSI) bahwa itu sebuah kesengajaan yang tersistem, ataukah hanya faktor kebetulan semata. Dan Semoga itu hanya kebetulan saja. Meskipun ada pihak yang secara tersirat merasa dirugikan. 

Kemudian yang jadi pertanyaan dibenak masyarakat Indonesia adalah untuk apa KLB itu digelar jika faktanya faksi itu masih tetap ada? apakah hasil KLB itu benar adanya sebagai solusi? Dan itu menjadi topik yang hangat dan diperbincangkan di seluruh penjuru Indonsia. Terlebih pasca kekalahan Indonesia dari Arab Saudi kemarin. Sebuah tatanan PSSI yang apik dan profesional masih jauh dari yang diharapkan masyarakat indonesia secara umum. Dan fakta lapangan mengatakan bahwa PSSI belum secara maksimal menjadi PSSI yang seutuhnya. Ternyata PSSI hasil KLB hanya dalam bentuk semata belum secara substansi adanya.
 
Dan Impian masyarakat yang mendambakan sepakbola Indonesia bisa selangkah lebih maju dan berkualitas pun akhirnya harus tertunda kembali dan bahkan cenderung pupus jika kondisi dalam PSSI masih seperti itu.

Salam Sepakbola Indonesia 

bisa juga di baca disini

Menakar Peluang Indonesia dan Merindukan “Timnas yang Netral dan Tanpa embel-embel” apapun

Mari sejenak kita hilangkan bayangan kekalahan yang telah menimpa timnas indonesia kemarin malam (23/3/2013), dalam ajang pra piala asia 2015 yang akan di laksanakan di Australia mendatang. Bagi Timnas diharapkan jangan sampai terlalu larut dan meratapi kekalahan diperolehnya didepan pendukung sendiri di Gelora Bung Karno kemarin malam (23/3/13). Tapi yang terpenting adalah bagaimana menyikapi setiap kekalahan tersebut sebagai acuan dalam menapaki setiap pertandingan selalanjutnya.

Dalam ajang Pra Piala Asia 2015, Indonesia yang berada di Grup C. bersama Irak, Arab Saudi dan China. Dan Timnas Indonesia telah mengalami dua kekalahan secara beruntun pertama saat tandang ke Irak dan kedua saat menjamu Arab Saudi kemirin malam (23/3/13) di Gelora Bung Karno. Dan masih ada empat laga lagi yang akan dilakoni oleh Timnas Indonesia sebelum babak Final Piala Asia 2015 di gelar nanti.

Bagi Timnas Indonesia, kekalahan dari Irak dan Arab Saudi ini belum menutup peluang untuk dapat lolos ke putaran final Piala Asia 2015 yang akan berlangsung di Australia. Indonesia masih memiliki peluang lolos karena juara dan peringkat kedua masing-masing grup akan secara otomatis lolos. Tentunya jika timnas indonesia mampu memaksimalkan sisa empat laga di grup c ini dengan meraih tambahan poin penuh. 12 poin tambahan untuk mengatrol posisi Indonesia yang berada paling bawah sediri. Dan satu tiket lagi yang lolos adalah peringkat ketiga terbaik di antara lima grup. Sagelanya masih mungkin terjadi. 

Upaya Timnas Indonesia untuk memperjuangkan tiket ke Australia akan kembali dibuktikan saat menjamu China di Gelora Bung Karno pada 15 Oktober 2013 mendatang. China juga buka lawan yang mudah bagi Timnas Indonesia. Dan secara kualitas juga tidak kalah dengan negara lain di Asia. Laga ini akan menjadi laga berat bagi Timnas indonesia, meskipun secara mendasar setiap laga adalah berat dan butuh strategi dan konsentrasi yang penuh selama 90 menit waktu normal. Semoga timnas mampu meraih hasil maksimal di laga nanti, untuk mengamankan tiket ke Australia. 

Harapannya, nanti para pungawa Timnas Indonesia telah siap secara mental dan kualitas untuk meraih asa lolos ke Australia. Mereka para pemain timnas yang akan bertanding di sisa laga Pra Piala Asia 2015 nanti. Adalah Timnas yang bersih, netral dan tanpa “embel-embel” apapun. Timnas yang netral dari embel-embel golongan/kelompok tertentu yang banyak diberitakan dan menjadi topik hangat media cetak, media online, dan lainnya beberapa tahun terakhir ini. Dan hanya ada satu yaitu Timnas Indonesia

Salam Timnas Indonesia Tanpa Embel-Embel


Bisa juga dibaca disini

Pengalaman Berharga bagi Timnas Indonesia


Pertadingan tadi malam (23/3/13) tentunya akan menjadi pelajaran yang sangat berarti bagi timnas Indonesia. Di lapangan mereka harus beradu skill dan strategi permainan untuk bisa merengkuh sebuah kemenangan. Dan kita semua pasti tahu kalau Timnas Arab Saudi adalah salah satu tim kuat Di Benua Asia dan untuk mampu mengimbangi dan mengalahkan mereka bukanlan perkara yang mudah bagi Timnas Indonesia. 

Kendatipun demikian, patut untuk diacungi jempol dan salut banget adalah semangat para pungawa Timnas Indonesia. Meskipun mereka kalah secara fisik (postur tubuh) bukan menjadi persoalan berarti dan merasa minder. Justru yang terlihat semangat mereka begitu sangat membara dan pantang menyerah. Itulah yang mestiya tetap melekat pada pemain Timnas Indonesia dalam setiap pertandingan. 

Strategi yang dipaki oleh Rahmad “RD” Darmawan sangat berbeda dari biasanya. RD menerapkan strategi permainan terbuka dan serangan balik yang cepat, tenyata cukup efektif saat menghadapi Arab tadi malam. Dan terlihat sangat berbeda dari strategi permainan Indonesia saat menghadapai tim-tim kuat di Asia. Bahkan cenderung lebih memilih pola bertahan. Untuk membendung berbagai serangan lawan. 

Meskipun Arab tercatat sebagi salah satu tim terkuat di daratan Benua Asia. Namun, RD sangat yakin dan optimis untuk menerapkan strategi tersebut. Bukan sekedar “gambling” atau spekulasi semata yang ingin disuguhkan oleh RD. justru beberepa serang balik timnas kerap merepotkan barisan pertahanan Arab Saudi. Dan pada saat pertandinag baru berjalan enam menit. Berawal dari sebuah serangan balik yang sangat cepat Timnas Indonesia akhirnya Boaz mampu melesakkan goal kegawang Arab Saudi. 

Sempat unggul duluan lewat goal yang telah dicetak oleh Boaz saat pertandingan berjalan 6 Menit. Sontak membuat Gelora Bung Karno yang sejak menit awal dimulai telah ramai oleh yel-yel supporter timnas semakin bergemuruh menyambut goal boaz tersebut. Antusias suporter yang begitu mengelora membuat rasa percaya diri pemain Timnas pun semakin berlipat-lipat. Permainan mereka semakin meningkat, terhitung banyak tendangan yang mengarah ke gawang dan striker timnas kita kerapkali merepotkan barisan pertahan Arab Saudi yang sangat kokoh dan sulit ditebus. 

Namun, delapan menit kemudian Arab Saudi mampu menyamakan kedudukan 1-1 dan skor ini bertahan sampai turun minum. Dibabak kedua Arab mulai meningkatkan tempo pemainan mereka lewat serangan sayap mereka “sayap padang pasir” yang kerapkali membahayakan sektor pertahan Timnas. Pada Menit ke-56 Al Salem striker Arab Saudi menambah keunggulan menjadi 1-2 dan skor itu bertahan hingga akhir pertandingan. Dan Timnas Indonesia pun harus mengakui keperkasaan Timnas Arab Saudi atas kemenangan yang telah mereka raih.

Meskipun faktanya timnas Indonesia harus menelan kekalahan, namun perlu digaris bawahi adalah ternyata mereka mampu secara kualitas mengimbangi permainan para pemain timnas Arab Saudi. Dan itu menjadi modal penting dan pengalaaman yang sangat berharga bagi Timnas Indonesia di masa yang akan datang.
Bravo Timnas Indonesia

dapat di baca pula disini

Tugas Berat Rahmad "RD" Darmawan dan Timnas Indonesia

Para pecinta dan suporter Timnas Indonesia dalam beberapa hari ini akan menyaksikan kembali pertandingan yang amat ditunggu-tunggu selama ini. Mengapa demikian? Karena  pada pertandingan kali ini tidak ada lagi Timnas  PSSI dan timnas KPSI. Semua pemain terbaik indonesia tergabung menjadi satu dalam naungan PSSI yang belum lama menggelar Konggres Luar biasa (KLB) di Hotel Borobudur, Jakarta, Minggu (17/3/2013) dan menghasilkan keputusan penyatuan kembali dualisme kepengurusan di tubuh PSSI, yang beberapa Tahun terakhir ini sangat berdampak terhadap merosotnya prestasi timnas sepakbola indonesia.

Hari sabtu nanti, (23/3/2013) Timnas Indonesia akan menghadapi Arab Saudi, salah satu macan Asia yang sagat disegani dengan segudang prestasi di kancah persepakbolaan Asia dan Dunia. Lawan yang begitu tangguh untuk bisa ditaklukan Timnas Indonesia di pertandingan yang akan digelar di Gelora Bung Karno nanti.

Ironisnya, untuk menghadapi lawan yang tergolong tim favorit di Asia ini, Timnas Indonesia tengah menghadapi berbagai macam goncangan yang amat luar biasa. Baik itu dari sisi internal PSSI sendiri yang baru mengadakan KLB, pergantian pelatih timnas serta porsi waktu latihan para pemain timnas yang sangat mepet sekali pra pertandingan yang akan digelar. Terhitung belum sampai satu minggu pasca KLB kemarin.

Dengan kondisi yang sedemikian rupa, sangat ditakutkan bisa berpengeruh buruk terhadap kondisi fisik dan mental pemain timnas saat bertanding nanti. Dan pada akhirnya permainan mereka kurang maksimal dan menoreh hasil yang buruk di lapangan. Di sisi lain, pelatih timnas Rahmad Darmawan (RD) yang baru ditunjuk usai KLB kemarin, pun harus bekerja ekstra keras dalam waktu yang relatif singkat. Dalam mengemban tugas berat ini, RD di temani oleh Jackson F. Tiago untuk melakukan seleksi para pemain yang layak dan siap diturunkan pada pertandingan melawan Arab Saudi nanti. Mampukah mereka mengemban amanah yang berat ini dari PSSi dan seluruh rakyat indonesia. Kita tunggu hasilnya pasca peluit panjang sang wasit sebagai tanda berakhirnya pertandingan nanti.

Berikut Daftar Pemain Timnas Indonesia vs Arab Saudi yang diumumkan tadi oleh Rahmad Darmawan dari hasil seleksi pelatnas : Kiper : Kurnia Meiga, I Made Wirawan, Samsidar Belakang : Hamka Hamzah, M.Roby, Victor Igbonefo, Abdul Rahman, Zulkifli Syukur, Ricardo Salampessy, Supardi, Ruben Sanadi, Tony Sucipto Tengah : Tony Sucipto, Immanuel Wanggai, Ponaryo Astaman, Ahmad Bustomi, Raphael Maitimo, M. Taufiq, M.Ridwan, Andik Vermansah. Penyerang; Greg, Boaz, Pahabol, Irfan, Kabes, Sergio, Bonai. Semoga pemain Timnas Indonesia berlaga di pertandingan nanti, mampu memberikan hadiah yang menarik bagi seluruh rakyat Indonesia dengan permainan terbaik mereka dan sebuah kemenangan.

Bravo  Sepakbola Indonesia

bisa juga dibaca disini

Timnas Berprestasi, Hanya dongeng belaka?

Kondisi Sepak Bola Indonesia beberapa tahun ini, mengalamai banyak gejolak dan konflik yang luar biasa dahsyatnya dan tak kunjung usai. Fenomena tersebut sudah menjadi suguhan setiap saat bagi pecinta bola dan seluruh rakyat Indonesia yang kebetulan sering melihat berita di
televisi dan media cetak dll, terkait kisruh yang ada di tubuh PSSI.

Masih segar di ingatan kita, di tahun 2012 berbagai gejolak itu sangat kentara sekali. Pertama,  di bulan Maret 2012 lalu, diadakan Kongres Luar Biasa (KLB) di Ancol dan kemudian mendaulat La Nyala Mataliti menjadi ketua umum PSSI yang sah versi Komite penyelamat sepakbola Indonesia (KPSI).  Kedua, antara KPSI dan PSSI sama-sama mengadakan konggres, KPSI di Jakarta dan PSSI di Palangkaraya. Sontak kejadian tersebut membuat sebagian besar warga Indonesia khusunya para pecinta dan penikmat bola merasa aneh dan terheran-heran.

Ketiga, pergantian pelatih timnas yang terkesan sepihak tanpa ada konfirmasi terlebih dahulu, usai timnas menelan kekalahan dari tuan rumah Irak. Keputusan PSSI tersebut merupakan pukulan telak bagi Nil Maizar selaku pelatih timnas. Bagaimana tidak, disaat Nil Maizar dan pemain timnas sedang masih di Irak,  secara tiba-tiba PSSI justru mengumumkan pelatih timnas baru dari Argentina Luis Manuel Blanco menggantikan Nil Maizar. Publik negeri ini pun mulai bertanya-tanya inikah keputusan terbaik yang harus diambil oleh PSSI untuk menyelematkan sepakbola Indonesia meskipun keputusan itu bisa dibilang sangat arogan untuk sebuah nama besar PSSI.

Keempat, baru beberapa hari kemarin (17/03/2013) diadakan konggres luar biasa (KLB) di hotel borobudur jakarta. Yang kemudian menghasilkan keputusan bersatunya dualisme di tubuh PSSI yang selama ini sering bersebrangan. Meskipun banyak yang pro dan kontra  dan bahkan sempat ada yang menilai KLB tersebut sarat konspirasi dan para mafia ikut andil didalamnya, untuk memenangkan golongan tertentu. Itulah persepsi publik beragam penilaian pun menjadi wajar adanya.

Namun, bukan persolana ada pro kontra dan ada kubu yang menang dan kalah dalam KLB tersebut. Yang menjadi penting adalah bagaimana PSSI mampu membuat formula yang bagus untuk meningkatkan prestasi Sepakbola Indonesia dan Timnas Indonesia untuk bisa berbicara dikancah Asia maupun Dunia.

Kiranya empat poin tersebutlah, yang selama ini menghantui dan menyita banyak waktu PSSI untuk memperhatikan secara maksimal Sepakbola Indonesia. Dan membuat mimpi sebagian besar warga indonesia untuk melihat Timnas Indonesia lebih maju dan berprestasi sempat tertunda. karena, mereka sibuk mengurusi kisruh PSSI dari pada menurus Sepakbola dan Timnas Indonesia.

Tentunya, itu bukanlah tugas yang ringan bagi PSSI. namun, seiring dengan bersatunya kembali pengurus PSSI yang sempat berebranga. Kiranya itu merupakan iktikad baik untuk dapat bersama-sama memajukan sepak bola kedepan. dan juga menjadi penawar rasa was-was warga indonesia selama ini, yang miris menyaksikan kemorosotan timas indonesia akibat kisruh di tubuh PSSI belakangan ini.

Semoga impian warga Indonesia untuk menjadi saksi sejarah atas segala kemajuan dan prestasi terbaik sepakbola dan Timnas Indonesia dimasa yang akan datang bukan hanya dongeng belaka.

Bravo Sepak Bola Indonesia


bisa juga dilihat: disini

Konflik sepakbola Indonesia makin panjang


Pelaksana Tugas Menpora, Agung Laksono menilai PSSI melanggar kesepakatan bersama.




Kementerian Pemuda dan Olahraga menolak memberikan rekomendasi terhadap penyelenggaraan kongres PSSI di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Pelaksana tugas Menteri Pemuda dan Olahraga, Agung Laksono dalam konfrensi pers hari Minggu (9/10) di Jakarta mengatakan PSSI hingga saat ini belum memberikan verifikasi peserta yang akan hadir dalam kongres tersebut.
"Sampai sekarang tanggal 9 Desember pukul 14.30 verifikasi peserta anggota belum dilakukan oleh joint committee sehingga kami belum menerima hasilnya. Berkenaan dengan hal itu maka pemerintah belum dapat memberikan rekomendasi terhadap penyelenggaraan kongres di Palangkaraya," kata Agung Laksono.
Namun menurut Agung pemerintah tidak bisa melarang penyelenggaraan kongres tersebut.
"Kami tidak memiliki kewenangan untuk melarang namun kami tidak memberikan rekomendasi."
Agung mengatakan pemerintah telah berusaha untuk menghubungi pejabat di PSSI namun tidak ada satu pihak pun dari organisasi itu yang bisa dimintai keterangan soal hasil verifikasi kongres tersebut.
"Bahkan ada yang sulit dhubungi bagaimana ini saya sudah dari pagi dan pejabat di kemenpora dan kesra sengaja tidak diliburkan untuk ini."
Selain PSSI, Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia, KPSI juga berencana untuk menggelar kongres serupa namun pemerintah menurut Agung tidak akan menghadiri kongres yang akan digelar oleh keduanya.

Sikap PSSI

PSSI sejauh ini belum berencana mengubah rencana penyelenggaraan kongres yang akan berlangsung besok, sejumlah media di Jakarta melaporkan peserta kongres sudah mulai berdatangan hari ini.
Deputi Sekjen Bidang Kompetisi PSSI Saleh Mukadar tidak sependapat dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam menangani konflik sepakbola di Indonesia.
"Keputusan ini menguatkan stigma bahwa pemerintahlah yang membuat dualisme PSSI berkepanjangan, dia memberikan izin aktifitas organisasi ilegal semacam KPSI dan tidak mendukung yang legal seperti PSSI," kata Saleh dalam pesan pendeknya kepada Wartawan BBC Indonesia, Andreas Nugroho.
"Dalam sejarah sepak bola Indonesia atau kongres di negara manapun di dunia ini baru hanya di Indonesia, federasi diwajibkan menyetorkan hasil verifikasi peserta kongres pada pemerintah"
Saleh Mukadar
Saleh juga mengatakan bahwa penyerahan hasil verifikasi peserta kongres kepada pemerintah bukanlah keharusan.
"Dalam sejarah sepak bola Indonesia atau kongres di negara manapun di dunia ini baru hanya di Indonesia, federasi diwajibkan menyetorkan hasil verifikasi peserta kongres pada pemerintah."
PSSI sebelumnya diwajibkab oleh FIFA untuk menggelar kongres pada tanggal 10 Desember untuk menyelesaikan konflik yang terjadi di dunia sepakbola Indonesia.
Federasi sepakbola dunia itu mengancam akan menjatuhkan sanksi kepada Indonesia jika penyelenggaraan kongres itu gagal digelar oleh PSSI.
Konflik yang terjadi di dunia sepakbola Indonesia telah berdampak terhadap penampilan tim sepakbola nasional Indonesia.
Saat timnas Indonesia berlaga di ajang Piala AFF sejumlah pemain yang tergabung dalam klub di bawah KPSI dilarang untuk memperkuat timnas.
Kondisi ini membuat PSSI tidak bisa membentuk tim terbaik di laga tersebut dan berujung pada gagalnya Indonesia melewati babak penyisihan grup. 

Biografi Ir. Soekarno


Ketika kita mendengar nama Dr.(HC) Ir. Soekarno semua orang pasti teringat dengan proklamator dan juga presiden pertama Indonesia. Nama lahir presiden Soekarno sebenarnya adalah Koesno Sosrodihardjo, beliau lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada tanggal 6 Juni 1901. Jika dilihat dari sejarahnya, Soekarno adalah Presiden Indonesia pertama yang menjabat pada periode 1945–1966, beliau juga memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Selain itu, Soekarno juga merupakan penggali Pancasila karena ia yang pertama kali mencetuskan konsep mengenai dasar negara Indonesia dan ia sendiri juga yang menamainya Pancasila. Beliau juga merupakan seorang Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945.

Soekarno menandatangani Surat Perintah 11 Maret 1966 Supersemar yang kontroversial, yang isinya, berdasarkan versi yang dikeluarkan Markas Besar Angkatan Darat menugaskan Letnan Jenderal Soeharto untuk mengamankan dan menjaga keamanan negara dan institusi kepresidenan. Supersemar menjadi dasar Letnan Jenderal Soeharto untuk membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan mengganti anggota-anggotanya yang duduk di parlemen. Setelah pertanggungjawabannya ditolak Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada sidang umum ke empat tahun 1967, Presiden Soekarno diberhentikan dari jabatannya sebagai presiden pada Sidang Istimewa MPRS pada tahun yang sama dan mengangkat Soeharto sebagai pejabat Presiden Republik Indonesia.

Biografi Masa Kecil & Remaja Soekarno

Soekarno dilahirkan dengan seorang ayah yang bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya yaitu Ida Ayu Nyoman Rai. Keduanya bertemu ketika Raden Soekemi yang merupakan seorang guru ditempatkan di Sekolah Dasar Pribumi di Singaraja, Bali. Nyoman Rai merupakan keturunan bangsawan dari Bali dan beragama Hindu sedangkan Raden Soekemi sendiri beragama Islam. Mereka telah memiliki seorang putri yang bernama Sukarmini sebelum Soekarno lahir. Ketika kecil Soekarno tinggal bersama kakeknya, Raden Hardjokromo di Tulung Agung, Jawa Timur.

Ia bersekolah pertama kali di Tulung Agung hingga akhirnya ia pindah ke Mojokerto, mengikuti orangtuanya yang ditugaskan di kota tersebut. Di Mojokerto, ayahnya memasukan Soekarno ke Eerste Inlandse School, sekolah tempat ia bekerja. Kemudian pada Juni 1911 Soekarno dipindahkan ke Europeesche Lagere School (ELS) untuk memudahkannya diterima di Hoogere Burger School (HBS). Pada tahun 1915, Soekarno telah menyelesaikan pendidikannya di ELS dan berhasil melanjutkan ke HBS di Surabaya, Jawa Timur. Ia dapat diterima di HBS atas bantuan seorang kawan bapaknya yang bernama H.O.S.

Tjokroaminoto. Tjokroaminoto bahkan memberi tempat tinggal bagi Soekarno di pondokan kediamannya. Di Surabaya, Soekarno banyak bertemu dengan para pemimpin Sarekat Islam, organisasi yang dipimpin Tjokroaminoto saat itu, seperti Alimin, Musso, Dharsono, Haji Agus Salim, dan Abdul Muis. Soekarno kemudian aktif dalam kegiatan organisasi pemuda Tri Koro Dharmo yang dibentuk sebagai organisasi dari Budi Utomo. Nama organisasi tersebut kemudian ia ganti menjadi Jong Java (Pemuda Jawa) pada 1918. Selain itu, Soekarno juga aktif menulis di harian "Oetoesan Hindia" yang dipimpin oleh Tjokroaminoto.

Tamat HBS Soerabaja bulan Juli 1921, bersama Djoko Asmo rekan satu angkatan di HBS, Soekarno melanjutkan ke Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB) di Bandung dengan mengambil jurusan teknik sipil pada tahun 1921, setelah dua bulan dia meninggalkan kuliah, tetapi pada tahun 1922 mendaftar kembali dan tamat pada tahun 1926. Soekarno dinyatakan lulus ujian insinyur pada tanggal 25 Mei 1926 dan pada Dies Natalis ke-6 TH Bandung tanggal 3 Juli 1926 dia diwisuda bersama delapan belas insinyur lainnya. Prof. Jacob Clay selaku ketua fakultas pada saat itu menyatakan "Terutama penting peristiwa itu bagi kita karena ada di antaranya 3 orang insinyur orang Jawa".[14] Mereka adalah Soekarno, Anwari, dan Soetedjo, selain itu ada seorang lagi dari Minahasa yaitu Johannes Alexander Henricus Ondang.

Saat di Bandung, Soekarno tinggal di kediaman Haji Sanusi yang merupakan anggota Sarekat Islam dan sahabat karib Tjokroaminoto. Di sana ia berinteraksi dengan Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo, dan Dr. Douwes Dekker, yang saat itu merupakan pemimpin organisasi National Indische Partij.

Biografi Kiprah Politik Presiden Soekarno

1. Masa Pergerakan Nasional

Soekarno untuk pertama kalinya menjadi terkenal ketika dia menjadi anggota Jong Java cabang Surabaya pada tahun 1915. Bagi Soekarno sifat organisasi tersebut yang Jawa-sentris dan hanya memikirkan kebudyaan saja merupakan tantangan tersendiri. Dalam rapat pleno tahunan yang diadakan Jong Java cabang Surabaya Soekarno menggemparkan sidang dengan berpidato menggunakan bahasa Jawa ngoko (kasar). Sebulan kemudian dia mencetuskan perdebatan sengit dengan menganjurkan agar surat kabar Jong Java diterbitkan dalam bahasa Melayu saja, dan bukan dalam bahasa Belanda.

Pada tahun 1926, Soekarno mendirikan Algemene Studie Club di Bandung yang merupakan hasil inspirasi dari Indonesische Studie Club oleh Dr. Soetomo. Organisasi ini menjadi cikal bakal Partai Nasional Indonesia yang didirikan pada tahun 1927. Aktivitas Soekarno di PNI menyebabkannya ditangkap Belanda pada tanggal 29 Desember 1929 di Yogyakarta dan esoknya dipindahkan ke Bandung, untuk dijebloskan ke Penjara Banceuy. Pada tahun 1930 ia dipindahkan ke Sukamiskin dan pada tahun itu ia memunculkan pledoinya yang fenomenal Indonesia Menggugat (pledoi), hingga dibebaskan kembali pada tanggal 31 Desember 1931.

Pada bulan Juli 1932, Soekarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo), yang merupakan pecahan dari PNI. Soekarno kembali ditangkap pada bulan Agustus 1933, dan diasingkan ke Flores. Di sini, Soekarno hampir dilupakan oleh tokoh-tokoh nasional. Namun semangatnya tetap membara seperti tersirat dalam setiap suratnya kepada seorang Guru Persatuan Islam bernama Ahmad Hasan.

Pada tahun 1938 hingga tahun 1942 Soekarno diasingkan ke Provinsi Bengkulu. Soekarno baru kembali bebas pada masa penjajahan Jepang pada tahun 1942.

2. Masa Penjajahan Jepang

Pada awal masa penjajahan Jepang (1942-1945), pemerintah Jepang sempat tidak memerhatikan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia terutama untuk "mengamankan" keberadaannya di Indonesia. Ini terlihat pada Gerakan 3A dengan tokohnya Shimizu dan Mr. Syamsuddin yang kurang begitu populer.

Namun akhirnya, pemerintahan pendudukan Jepang memerhatikan dan sekaligus memanfaatkan tokoh-tokoh Indonesia seperti Soekarno, Mohammad Hatta, dan lain-lain dalam setiap organisasi-organisasi dan lembaga lembaga untuk menarik hati penduduk Indonesia. Disebutkan dalam berbagai organisasi seperti Jawa Hokokai, Pusat Tenaga Rakyat (Putera), BPUPKI dan PPKI, tokoh tokoh seperti Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara, K.H. Mas Mansyur, dan lain-lainnya disebut-sebut dan terlihat begitu aktif. Dan akhirnya tokoh-tokoh nasional bekerja sama dengan pemerintah pendudukan Jepang untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, meski ada pula yang melakukan gerakan bawah tanah seperti Sutan Syahrir dan Amir Sjarifuddin karena menganggap Jepang adalah fasis yang berbahaya.

Presiden Soekarno sendiri, saat pidato pembukaan menjelang pembacaan teks proklamasi kemerdekaan, mengatakan bahwa meski sebenarnya kita bekerja sama dengan Jepang sebenarnya kita percaya dan yakin serta mengandalkan kekuatan sendiri.

Ia aktif dalam usaha persiapan kemerdekaan Indonesia, di antaranya adalah merumuskan Pancasila, UUD 1945, dan dasar dasar pemerintahan Indonesia termasuk merumuskan naskah proklamasi Kemerdekaan. Ia sempat dibujuk untuk menyingkir ke Rengasdengklok.

Pada tahun 1943, Perdana Menteri Jepang Hideki Tojo mengundang tokoh Indonesia yakni Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ki Bagoes Hadikoesoemo ke Jepang dan diterima langsung oleh Kaisar Hirohito. Bahkan kaisar memberikan Bintang kekaisaran (Ratna Suci) kepada tiga tokoh Indonesia tersebut. Penganugerahan Bintang itu membuat pemerintahan pendudukan Jepang terkejut, karena hal itu berarti bahwa ketiga tokoh Indonesia itu dianggap keluarga Kaisar Jepang sendiri. Pada bulan Agustus 1945, ia diundang oleh Marsekal Terauchi, pimpinan Angkatan Darat wilayah Asia Tenggara di Dalat Vietnam yang kemudian menyatakan bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah urusan rakyat Indonesia sendiri.

Namun keterlibatannya dalam badan-badan organisasi bentukan Jepang membuat Soekarno dituduh oleh Belanda bekerja sama dengan Jepang, antara lain dalam kasus romusha.

3. Masa Perang Revolusi

Soekarno bersama tokoh-tokoh nasional mulai mempersiapkan diri menjelang Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Setelah sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia BPUPKI, Panitia Kecil yang terdiri dari delapan orang (resmi), Panitia Kecil yang terdiri dari sembilan orang/Panitia Sembilan (yang menghasilkan Piagam Jakarta) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia PPKI, Soekarno-Hatta mendirikan Negara Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Setelah menemui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, terjadilah Peristiwa Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945; Soekarno dan Mohammad Hatta dibujuk oleh para pemuda untuk menyingkir ke asrama pasukan Pembela Tanah Air Peta Rengasdengklok. Tokoh pemuda yang membujuk antara lain Soekarni, Wikana, Singgih serta Chairul Saleh. Para pemuda menuntut agar Soekarno dan Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia, karena di Indonesia terjadi kevakuman kekuasaan. Ini disebabkan karena Jepang sudah menyerah dan pasukan Sekutu belum tiba. Namun Soekarno, Hatta dan para tokoh menolak dengan alasan menunggu kejelasan mengenai penyerahan Jepang.

Alasan lain yang berkembang adalah Soekarno menetapkan momen tepat untuk kemerdekaan Republik Indonesia yakni dipilihnya tanggal 17 Agustus 1945 saat itu bertepatan dengan bulan Ramadhan, bulan suci kaum muslim yang diyakini merupakan bulan turunnya wahyu pertama kaum muslimin kepada Nabi Muhammad SAW yakni Al Qur-an. Pada tanggal 18 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta diangkat oleh PPKI menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Pada tanggal 29 Agustus 1945 pengangkatan menjadi presiden dan wakil presiden dikukuhkan oleh KNIP. Pada tanggal 19 September 1945 kewibawaan Soekarno dapat menyelesaikan tanpa pertumpahan darah peristiwa Lapangan Ikada tempat 200.000 rakyat Jakarta akan bentrok dengan pasukan Jepang yang masih bersenjata lengkap.

Pada saat kedatangan Sekutu (AFNEI) yang dipimpin oleh Letjen. Sir Phillip Christison, Christison akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia secara de facto setelah mengadakan pertemuan dengan Presiden Soekarno. Presiden Soekarno juga berusaha menyelesaikan krisis di Surabaya. Namun akibat provokasi yang dilancarkan pasukan NICA (Belanda) yang membonceng Sekutu (di bawah Inggris), meledaklah Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya dan gugurnya Brigadir Jenderal A.W.S Mallaby.

Karena banyak provokasi di Jakarta pada waktu itu, Presiden Soekarno akhirnya memindahkan Ibukota Republik Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta. Diikuti wakil presiden dan pejabat tinggi negara lainnya.

Kedudukan Presiden Soekarno menurut UUD 1945 adalah kedudukan Presiden selaku kepala pemerintahan dan kepala negara (presidensiil/single executive). Selama revolusi kemerdekaan, sistem pemerintahan berubah menjadi semipresidensiil/double executive. Presiden Soekarno sebagai Kepala Negara dan Sutan Syahrir sebagai Perdana Menteri/Kepala Pemerintahan. Hal itu terjadi karena adanya maklumat wakil presiden No X, dan maklumat pemerintah bulan November 1945 tentang partai politik. Hal ini ditempuh agar Republik Indonesia dianggap negara yang lebih demokratis.

Meski sistem pemerintahan berubah, pada saat revolusi kemerdekaan, kedudukan Presiden Soekarno tetap paling penting, terutama dalam menghadapi Peristiwa Madiun 1948 serta saat Agresi Militer Belanda II yang menyebabkan Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan sejumlah pejabat tinggi negara ditahan Belanda. Meskipun sudah ada Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dengan ketua Sjafruddin Prawiranegara, tetapi pada kenyataannya dunia internasional dan situasi dalam negeri tetap mengakui bahwa Soekarno-Hatta adalah pemimpin Indonesia yang sesungguhnya, hanya kebijakannya yang dapat menyelesaikan sengketa Indonesia-Belanda.

4. Masa Kemerdekaan Indonesia

Setelah Pengakuan Kedaulatan (Pemerintah Belanda menyebutkan sebagai Penyerahan Kedaulatan), Presiden Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Mohammad Hatta diangkat sebagai perdana menteri RIS. Jabatan Presiden Republik Indonesia diserahkan kepada Mr Assaat, yang kemudian dikenal sebagai RI Jawa-Yogya. Namun karena tuntutan dari seluruh rakyat Indonesia yang ingin kembali ke negara kesatuan, maka pada tanggal 17 Agustus 1950, RIS kembali berubah menjadi Republik Indonesia dan Presiden Soekarno menjadi Presiden RI. Mandat Mr Assaat sebagai pemangku jabatan Presiden RI diserahkan kembali kepada Ir. Soekarno. Resminya kedudukan Presiden Soekarno adalah presiden konstitusional, tetapi pada kenyataannya kebijakan pemerintah dilakukan setelah berkonsultasi dengannya.

Mitos Dwitunggal Soekarno-Hatta cukup populer dan lebih kuat di kalangan rakyat dibandingkan terhadap kepala pemerintahan yakni perdana menteri. Jatuh bangunnya kabinet yang terkenal sebagai "kabinet seumur jagung" membuat Presiden Soekarno kurang memercayai sistem multipartai, bahkan menyebutnya sebagai "penyakit kepartaian". Tak jarang, ia juga ikut turun tangan menengahi konflik-konflik di tubuh militer yang juga berimbas pada jatuh bangunnya kabinet. Seperti peristiwa 17 Oktober 1952 dan Peristiwa di kalangan Angkatan Udara. Soekarno dan John F. Kennedy

Presiden Soekarno juga banyak memberikan gagasan-gagasan di dunia Internasional. Keprihatinannya terhadap nasib bangsa Asia-Afrika, masih belum merdeka, belum mempunyai hak untuk menentukan nasibnya sendiri, menyebabkan presiden Soekarno, pada tahun 1955, mengambil inisiatif untuk mengadakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung yang menghasilkan Dasa Sila. Bandung dikenal sebagai Ibu Kota Asia-Afrika. Ketimpangan dan konflik akibat "bom waktu" yang ditinggalkan negara-negara barat yang dicap masih mementingkan imperialisme dan kolonialisme, ketimpangan dan kekhawatiran akan munculnya perang nuklir yang mengubah peradaban, ketidakadilan badan-badan dunia internasional dalam penyelesaian konflik juga menjadi perhatiannya.

Bersama Presiden Josip Broz Tito (Yugoslavia), Gamal Abdel Nasser (Mesir), Mohammad Ali Jinnah (Pakistan), U Nu, (Birma) dan Jawaharlal Nehru (India) ia mengadakan Konferensi Asia Afrika yang membuahkan Gerakan Non Blok. Berkat jasanya itu, banyak negara Asia Afrika yang memperoleh kemerdekaannya. Namun sayangnya, masih banyak pula yang mengalami konflik berkepanjangan sampai saat ini karena ketidakadilan dalam pemecahan masalah, yang masih dikuasai negara-negara kuat atau adikuasa. Berkat jasa ini pula, banyak penduduk dari kawasan Asia Afrika yang tidak lupa akan Soekarno bila ingat atau mengenal akan Indonesia.[rujukan?]

Guna menjalankan politik luar negeri yang bebas-aktif dalam dunia internasional, Presiden Soekarno mengunjungi berbagai negara dan bertemu dengan pemimpin-pemimpin negara. Di antaranya adalah Nikita Khruschev (Uni Soviet), John Fitzgerald Kennedy (Amerika Serikat), Fidel Castro (Kuba), Mao Tse Tung (RRC).

Biografi Akhir Hayat Presiden Soekarno

Kesehatan Soekarno sudah mulai menurun sejak bulan Agustus 1965.[26] Sebelumnya, ia telah dinyatakan mengidap gangguan ginjal dan pernah menjalani perawatan di Wina, Austria tahun 1961 dan 1964.[26] Prof. Dr. K. Fellinger dari Fakultas Kedokteran Universitas Wina menyarankan agar ginjal kiri Soekarno diangkat tetapi ia menolaknya dan lebih memilih pengobatan tradisional. Ia masih bertahan selama 5 tahun sebelum akhirnya meninggal pada hari Minggu, 21 Juni 1970 di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta dengan status sebagai tahanan politik. Jenazah Soekarno pun dipindahkan dari RSPAD ke Wisma Yasso yang dimiliki oleh Ratna Sari Dewi. Sebelum dinyatakan wafat, pemeriksaan rutin terhadap Soekarno sempat dilakukan oleh Dokter Mahar Mardjono yang merupakan anggota tim dokter kepresidenan. Tidak lama kemudian dikeluarkanlah komunike medis yang ditandatangani oleh Ketua Prof. Dr. Mahar Mardjono beserta Wakil Ketua Mayor Jenderal Dr. (TNI AD) Rubiono Kertopati.

Walaupun Soekarno pernah meminta agar dirinya dimakamkan di Istana Batu Tulis, Bogor, namun pemerintahan Presiden Soeharto memilih Kota Blitar, Jawa Timur, sebagai tempat pemakaman Soekarno. Hal tersebut ditetapkan lewat Keppres RI No. 44 tahun 1970. Jenazah Soekarno dibawa ke Blitar sehari setelah kematiannya dan dimakamkan keesokan harinya bersebelahan dengan makam ibunya. Upacara pemakaman Soekarno dipimpin oleh Panglima ABRI Jenderal M. Panggabean sebagai inspektur upacara. Pemerintah kemudian menetapkan masa berkabung selama tujuh hari.
#Dari berbagai sumber

BUNG HATTA ( MUHAMMAD HATTA)

Mohammad Hatta lahir pada tanggal 12 Agustus 1902 di Bukittinggi. Di kota kecil yang indah inilah Bung Hatta dibesarkan di lingkungan keluarga ibunya. Ayahnya, Haji Mohammad Djamil, meninggal ketika Hatta berusia delapan bulan. Dari ibunya, Hatta memiliki enam saudara perempuan. Ia adalah anak laki-laki satu-satunya. Sejak duduk di MULO di kota Padang, ia telah tertarik pada pergerakan. Sejak tahun 1916, timbul perkumpulan-perkumpulan pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa. dan Jong Ambon. Hatta masuk ke perkumpulan Jong Sumatranen Bond.

Sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond, ia menyadari pentingnya arti keuangan bagi hidupnya perkumpulan. Tetapi sumber keuangan baik dari iuran anggota maupun dari sumbangan luar hanya mungkin lancar kalau para anggotanya mempunyai rasa tanggung jawab dan disiplin. Rasa tanggung jawab dan disiplin selanjutnya menjadi ciri khas sifat-sifat Mohammad Hatta.

Masa Studi di Negeri Belanda

Pada tahun 1921 Hatta tiba di Negeri Belanda untuk belajar pada Handels Hoge School di Rotterdam. Ia mendaftar sebagai anggota Indische Vereniging. Tahun 1922, perkumpulan ini berganti nama menjadi Indonesische Vereniging. Perkumpulan yang menolak bekerja sama dengan Belanda itu kemudian berganti nama lagi menjadi Perhimpunan Indonesia (PI).

Hatta juga mengusahakan agar majalah perkumpulan, Hindia Poetra, terbit secara teratur sebagai dasar pengikat antaranggota. Pada tahun 1924 majalah ini berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.

Hatta lulus dalam ujian handels economie (ekonomi perdagangan) pada tahun 1923. Semula dia bermaksud menempuh ujian doctoral di bidang ilmu ekonomi pada akhir tahun 1925. Karena itu pada tahun 1924 dia non-aktif dalam PI. Tetapi waktu itu dibuka jurusan baru, yaitu hukum negara dan hukum administratif. Hatta pun memasuki jurusan itu terdorong oleh minatnya yang besar di bidang politik.

Perpanjangan rencana studinya itu memungkinkan Hatta terpilih menjadi Ketua PI pada tanggal 17 Januari 1926. Pada kesempatan itu, ia mengucapkan pidato inaugurasi yang berjudul "Economische Wereldbouw en Machtstegenstellingen"--Struktur Ekonomi Dunia dan Pertentangan kekuasaan. Dia mencoba menganalisis struktur ekonomi dunia dan berdasarkan itu, menunjuk landasan kebijaksanaan non-kooperatif.

Sejak tahun 1926 sampai 1930, berturut-turut Hatta dipilih menjadi Ketua PI. Di bawah kepemimpinannya, PI berkembang dari perkumpulan mahasiswa biasa menjadi organisasi politik yang mempengaruhi jalannya politik rakyat di Indonesia. Sehingga akhirnya diakui oleh Pemufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPI) PI sebagai pos depan dari pergerakan nasional yang berada di Eropa.

PI melakukan propaganda aktif di luar negeri Belanda. Hampir setiap kongres intemasional di Eropa dimasukinya, dan menerima perkumpulan ini. Selama itu, hampir selalu Hatta sendiri yang memimpin delegasi.

Pada tahun 1926, dengan tujuan memperkenalkan nama "Indonesia", Hatta memimpin delegasi ke Kongres Demokrasi Intemasional untuk Perdamaian di Bierville, Prancis. Tanpa banyak oposisi, "Indonesia" secara resmi diakui oleh kongres. Nama "Indonesia" untuk menyebutkan wilayah Hindia Belanda ketika itu telah benar-benar dikenal kalangan organisasi-organisasi internasional.

Hatta dan pergerakan nasional Indonesia mendapat pengalaman penting di Liga Menentang Imperialisme dan Penindasan Kolonial, suatu kongres internasional yang diadakan di Brussels tanggal 10-15 Pebruari 1927. Di kongres ini Hatta berkenalan dengan pemimpin-pemimpin pergerakan buruh seperti G. Ledebour dan Edo Fimmen, serta tokoh-tokoh yang kemudian menjadi negarawan-negarawan di Asia dan Afrika seperti Jawaharlal Nehru (India), Hafiz Ramadhan Bey (Mesir), dan Senghor (Afrika). Persahabatan pribadinya dengan Nehru mulai dirintis sejak saat itu.

Pada tahun 1927 itu pula, Hatta dan Nehru diundang untuk memberikan ceramah bagi "Liga Wanita Internasional untuk Perdamaian dan Kebebasan" di Gland, Swiss. Judul ceramah Hatta L 'Indonesie et son Probleme de I' Independence (Indonesia dan Persoalan Kemerdekaan).

Bersama dengan Nazir St. Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul Madjid Djojoadiningrat, Hatta dipenjara selama lima setengah bulan. Pada tanggal 22 Maret 1928, mahkamah pengadilan di Den Haag membebaskan keempatnya dari segala tuduhan. Dalam sidang yang bersejarah itu, Hatta mengemukakan pidato pembelaan yang mengagumkan, yang kemudian diterbitkan sebagai brosur dengan nama "Indonesia Vrij", dan kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai buku dengan judul Indonesia Merdeka.

Antara tahun 1930-1931, Hatta memusatkan diri kepada studinya serta penulisan karangan untuk majalah Daulat Ra‘jat dan kadang-kadang De Socialist. Ia merencanakan untuk mengakhiri studinya pada pertengahan tahun 1932.

Kembali ke Tanah Air


Pada bulan Juli 1932, Hatta berhasil menyelesaikan studinya di Negeri Belanda dan sebulan kemudian ia tiba di Jakarta. Antara akhir tahun 1932 dan 1933, kesibukan utama Hatta adalah menulis berbagai artikel politik dan ekonomi untuk Daulat Ra’jat dan melakukan berbagai kegiatan politik, terutama pendidikan kader-kader politik pada Partai Pendidikan Nasional Indonesia. Prinsip non-kooperasi selalu ditekankan kepada kader-kadernya.

Reaksi Hatta yang keras terhadap sikap Soekarno sehubungan dengan penahannya oleh Pemerintah Kolonial Belanda, yang berakhir dengan pembuangan Soekarno ke Ende, Flores, terlihat pada tulisan-tulisannya di Daulat Ra’jat, yang berjudul "Soekarno Ditahan" (10 Agustus 1933), "Tragedi Soekarno" (30 Nopember 1933), dan "Sikap Pemimpin" (10 Desember 1933).

Pada bulan Pebruari 1934, setelah Soekarno dibuang ke Ende, Pemerintah Kolonial Belanda mengalihkan perhatiannya kepada Partai Pendidikan Nasional Indonesia. Para pimpinan Partai Pendidikan Nasional Indonesia ditahan dan kemudian dibuang ke Boven Digoel. Seluruhnya berjumlah tujuh orang. Dari kantor Jakarta adalah Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Bondan. Dari kantor Bandung: Maskun Sumadiredja, Burhanuddin, Soeka, dan Murwoto. Sebelum ke Digoel, mereka dipenjara selama hampir setahun di penjara Glodok dan Cipinang, Jakarta. Di penjara Glodok, Hatta menulis buku berjudul “Krisis Ekonomi dan Kapitalisme”.

Masa Pembuangan
Pada bulan Januari 1935, Hatta dan kawan-kawannya tiba di Tanah Merah, Boven Digoel (Papua). Kepala pemerintahan di sana, Kapten van Langen, menawarkan dua pilihan: bekerja untuk pemerintahan kolonial dengan upah 40 sen sehari dengan harapan nanti akan dikirim pulang ke daerah asal, atau menjadi buangan dengan menerima bahan makanan in natura, dengan tiada harapan akan dipulangkan ke daerah asal. Hatta menjawab, bila dia mau bekerja untuk pemerintah kolonial waktu dia masih di Jakarta, pasti telah menjadi orang besar dengan gaji besar pula. Maka tak perlulah dia ke Tanah Merah untuk menjadi kuli dengan gaji 40 sen sehari.

Dalam pembuangan, Hatta secara teratur menulis artikel-artikel untuk surat kabar Pemandangan. Honorariumnya cukup untuk biaya hidup di Tanah Merah dan dia dapat pula membantu kawan-kawannya. Rumahnya di Digoel dipenuhi oleh buku-bukunya yang khusus dibawa dari Jakarta sebanyak 16 peti. Dengan demikian, Hatta mempunyai cukup banyak bahan untuk memberikan pelajaran kepada kawan-kawannya di pembuangan mengenai ilmu ekonomi, sejarah, dan filsafat. Kumpulan bahan-bahan pelajaran itu di kemudian hari dibukukan dengan judul-judul antara lain, "Pengantar ke Jalan llmu dan Pengetahuan" dan "Alam Pikiran Yunani." (empat jilid).

Pada bulan Desember 1935, Kapten Wiarda, pengganti van Langen, memberitahukan bahwa tempat pembuangan Hatta dan Sjahrir dipindah ke Bandaneira. Pada Januari 1936 keduanya berangkat ke Bandaneira. Mereka bertemu Dr. Tjipto Mangunkusumo dan Mr. Iwa Kusumasumantri. Di Bandaneira, Hatta dan Sjahrir dapat bergaul bebas dengan penduduk setempat dan memberi pelajaran kepada anak-anak setempat dalam bidang sejarah, tatabuku, politik, dan lain-Iain.

Kembali Ke Jawa: Masa Pendudukan Jepang


Pada tanggal 3 Pebruari 1942, Hatta dan Sjahrir dibawa ke Sukabumi. Pada tanggal 9 Maret 1942, Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang, dan pada tanggal 22 Maret 1942 Hatta dan Sjahrir dibawa ke Jakarta.

Pada masa pendudukan Jepang, Hatta diminta untuk bekerja sama sebagai penasehat. Hatta mengatakan tentang cita-cita bangsa Indonesia untuk merdeka, dan dia bertanya, apakah Jepang akan menjajah Indonesia? Kepala pemerintahan harian sementara, Mayor Jenderal Harada. menjawab bahwa Jepang tidak akan menjajah. Namun Hatta mengetahui, bahwa Kemerdekaan Indonesia dalam pemahaman Jepang berbeda dengan pengertiannya sendiri. Pengakuan Indonesia Merdeka oleh Jepang perlu bagi Hatta sebagai senjata terhadap Sekutu kelak. Bila Jepang yang fasis itu mau mengakui, apakah sekutu yang demokratis tidak akan mau? Karena itulah maka Jepang selalu didesaknya untuk memberi pengakuan tersebut, yang baru diperoleh pada bulan September 1944.

Selama masa pendudukan Jepang, Hatta tidak banyak bicara. Namun pidato yang diucapkan di Lapangan Ikada (sekarang Lapangan Merdeka) pada tanggaI 8 Desember 1942 menggemparkan banyak kalangan. Ia mengatakan, “Indonesia terlepas dari penjajahan imperialisme Belanda. Dan oleh karena itu ia tak ingin menjadi jajahan kembali. Tua dan muda merasakan ini setajam-tajamnya. Bagi pemuda Indonesia, ia Iebih suka melihat Indonesia tenggelam ke dalam lautan daripada mempunyainya sebagai jajahan orang kembali."

Proklamasi Pada awal Agustus 1945, Panitia Penyidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia diganti dengan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, dengan Soekamo sebagai Ketua dan Mohammad Hatta sebagai Wakil Ketua. Anggotanya terdiri dari wakil-wakil daerah di seluruh Indonesia, sembilan dari Pulau Jawa dan dua belas orang dari luar Pulau Jawa.

Pada tanggal 16 Agustus 1945 malam, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mempersiapkan proklamasi dalam rapat di rumah Admiral Maeda (JI Imam Bonjol, sekarang), yang berakhir pada pukul 03.00 pagi keesokan harinya. Panitia kecil yang terdiri dari 5 orang, yaitu Soekamo, Hatta, Soebardjo, Soekarni, dan Sayuti Malik memisahkan diri ke suatu ruangan untuk menyusun teks proklamasi kemerdekaan. Soekarno meminta Hatta menyusun teks proklamasi yang ringkas. Hatta menyarankan agar Soekarno yang menuliskan kata-kata yang didiktekannya. Setelah pekerjaan itu selesai. mereka membawanya ke ruang tengah, tempat para anggota lainnya menanti.

Soekarni mengusulkan agar naskah proklamasi tersebut ditandatangi oleh dua orang saja, Soekarno dan Mohammad Hatta. Semua yang hadir menyambut dengan bertepuk tangan riuh.

Tangal 17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia, tepat pada jam 10.00 pagi di Jalan Pengangsaan Timur 56 Jakarta.

Tanggal 18 Agustus 1945, Ir Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia dan Drs. Mohammad Hatta diangkat menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia. Soekardjo Wijopranoto mengemukakan bahwa Presiden dan Wakil Presiden harus merupakan satu dwitunggal.

Periode Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia
Indonesia harus mempertahankan kemerdekaannya dari usaha Pemerintah Belanda yang ingin menjajah kembali. Pemerintah Republik Indonesia pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Dua kali perundingan dengan Belanda menghasilkan Perjanjian Linggarjati dan Perjanjian Reville, tetapi selalu berakhir dengan kegagalan akibat kecurangan pihak Belanda.

Untuk mencari dukungan luar negeri, pada Juli I947, Bung Hatta pergi ke India menemui Jawaharlal Nehru dan Mahatma Gandhi. dengan menyamar sebagai kopilot bernama Abdullah (Pilot pesawat adalah Biju Patnaik yang kemudian menjadi Menteri Baja India di masa Pemerintah Perdana Menteri Morarji Desai). Nehru berjanji, India dapat membantu Indonesia dengan protes dan resolusi kepada PBB agar Belanda dihukum.

Kesukaran dan ancaman yang dihadapi silih berganti. September 1948 PKI melakukan pemberontakan. 19 Desember 1948, Belanda kembali melancarkan agresi kedua. Presiden dan Wapres ditawan dan diasingkan ke Bangka. Namun perjuangan Rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan terus berkobar di mana-mana. Panglima Besar Soediman melanjutkan memimpin perjuangan bersenjata.

Pada tanggal 27 Desember 1949 di Den Haag, Bung Hatta yang mengetuai Delegasi Indonesia dalam Konperensi Meja Bundar untuk menerima pengakuan kedaulatan Indonesia dari Ratu Juliana.

Bung Hatta juga menjadi Perdana Menteri waktu Negara Republik Indonesia Serikat berdiri. Selanjutnya setelah RIS menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bung Hatta kembali menjadi Wakil Presiden.

Periode Tahun 1950-1956

Selama menjadi Wakil Presiden, Bung Hatta tetap aktif memberikan ceramah-ceramah di berbagai lembaga pendidikan tinggi. Dia juga tetap menulis berbagai karangan dan buku-buku ilmiah di bidang ekonomi dan koperasi. Dia juga aktif membimbing gerakan koperasi untuk melaksanakan cita-cita dalam konsepsi ekonominya. Tanggal 12 Juli 1951, Bung Hatta mengucapkan pidato radio untuk menyambut Hari Koperasi di Indonesia. Karena besamya aktivitas Bung Hatta dalam gerakan koperasi, maka pada tanggal 17 Juli 1953 dia diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia pada Kongres Koperasi Indonesia di Bandung. Pikiran-pikiran Bung Hatta mengenai koperasi antara lain dituangkan dalam bukunya yang berjudul Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun (1971).

Pada tahun 1955, Bung Hatta mengumumkan bahwa apabila parlemen dan konsituante pilihan rakyat sudah terbentuk, ia akan mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden. Niatnya untuk mengundurkan diri itu diberitahukannya melalui sepucuk surat kepada ketua Perlemen, Mr. Sartono. Tembusan surat dikirimkan kepada Presiden Soekarno. Setelah Konstituante dibuka secara resmi oleh Presiden, Wakil Presiden Hatta mengemukakan kepada Ketua Parlemen bahwa pada tanggal l Desember 1956 ia akan meletakkan jabatannya sebagai Wakil Presiden RI. Presiden Soekarno berusaha mencegahnya, tetapi Bung Hatta tetap pada pendiriannya.

Pada tangal 27 Nopember 1956, ia memperoleh gelar kehormatan akademis yaitu Doctor Honoris Causa dalam ilmu hukum dari Universitas Gajah Mada di Yoyakarta. Pada kesempatan itu, Bung Hatta mengucapkan pidato pengukuhan yang berjudul “Lampau dan Datang”.

Sesudah Bung Hatta meletakkan jabatannya sebagai Wakil Presiden RI, beberapa gelar akademis juga diperolehnya dari berbagai perguruan tinggi. Universitas Padjadjaran di Bandung mengukuhkan Bung Hatta sebagai guru besar dalam ilmu politik perekonomian. Universitas Hasanuddin di Ujung Pandang memberikan gelar Doctor Honoris Causa dalam bidang Ekonomi. Universitas Indonesia memberikan gelar Doctor Honoris Causa di bidang ilmu hukum. Pidato pengukuhan Bung Hatta berjudul “Menuju Negara Hukum”.

Pada tahun 1960 Bung Hatta menulis "Demokrasi Kita" dalam majalah Pandji Masyarakat. Sebuah tulisan yang terkenal karena menonjolkan pandangan dan pikiran Bung Hatta mengenai perkembangan demokrasi di Indonesia waktu itu.

Dalam masa pemerintahan Orde Baru, Bung Hatta lebih merupakan negarawan sesepuh bagi bangsanya daripada seorang politikus.

Hatta menikah dengan Rahmi Rachim pada tanggal l8 Nopember 1945 di desa Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Mereka mempunyai tiga orang putri, yaitu Meutia Farida, Gemala Rabi'ah, dan Halida Nuriah. Dua orang putrinya yang tertua telah menikah. Yang pertama dengan Dr. Sri-Edi Swasono dan yang kedua dengan Drs. Mohammad Chalil Baridjambek. Hatta sempat menyaksikan kelahiran dua cucunya, yaitu Sri Juwita Hanum Swasono dan Mohamad Athar Baridjambek.

Pada tanggal 15 Agustus 1972, Presiden Soeharto menyampaikan kepada Bung Hatta anugerah negara berupa Tanda Kehormatan tertinggi "Bintang Republik Indonesia Kelas I" pada suatu upacara kenegaraan di Istana Negara.
Bung Hatta, Proklamator Kemerdekaan dan Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia, wafat pada tanggal 14 Maret 1980 di Rumah Sakit Dr Tjipto Mangunkusumo, Jakarta, pada usia 77 tahun dan dikebumikan di TPU Tanah Kusir pada tanggal 15 Maret 1980.

Berikut Biodata dari Mohammad Hatta

Nama : Dr. Mohammad Hatta (Bung Hatta)

Lahir : Bukittinggi, 12 Agustus 1902

Wafat : Jakarta, 14 Maret 1980

Istri : (Alm.) Rahmi Rachim

Anak :

* Meutia Farida
* Gemala
* Halida Nuriah

Gelar Pahlawan : Pahlawan Proklamator RI tahun 1986
Pendidikan :

* Europese Largere School (ELS) di Bukittinggi (1916)
* Meer Uirgebreid Lagere School (MULO) di Padang (1919)
* Handel Middlebare School (Sekolah Menengah Dagang), Jakarta (1921)
* Gelar Drs dari Nederland Handelshogeschool, Rotterdam, Belanda (1932)

Karir :

* Bendahara Jong Sumatranen Bond, Padang (1916-1919)
* Bendahara Jong Sumatranen Bond, Jakarta (1920-1921)
* Ketua Perhimpunan Indonesia di Belanda (1925-1930)
* Wakil delegasi Indonesia dalam gerakan Liga Melawan Imperialisme dan Penjajahan, Berlin (1927-1931)
* Ketua Panitia (PNI Baru) Pendidikan Nasional Indonesia (1934-1935)
* Kepala Kantor Penasihat pada pemerintah Bala Tentara Jepang (April 1942)
* Anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (Mei 1945)
* Wakil Ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (7 Agustus 1945)
* Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia (17 Agustus 1945)
* Wakil Presiden Republik Indonesia pertama (18 Agustus 1945)
* Wakil Presiden merangkap Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan (Januari 1948 - Desember 1949)
* Ketua Delegasi Indonesia pada Konferensi Meja Bundar di Den Haag dan menerima penyerahan kedaulatan dari Ratu Juliana (1949)
* Wakil Presiden merangkap Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Kabinet Republik Indonesia Serikat (Desember 1949 - Agustus 1950)
* Dosen di Sesko Angkatan Darat, Bandung (1951-1961)
* Dosen di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta (1954-1959)
* Penasihat Presiden dan Penasihat Komisi IV tentang masalah korupsi (1969)
* Ketua Panitia Lima yang bertugas memberikan perumusan penafsiran mengenai Pancasila (1975)

Referensi :
- http://www.eramuslim.net/?buka=show_biografi&id=22
- http://www.ghabo.com/gpedia/index.php/Mohammad_Hatta
 
Support : Sudut Berita | Sudut Berita | SB Group
Copyright © 2011. SUDUT BERITA - All Rights Reserved
Template Edited by SB Crew Published by SB Crew
Proudly powered by Blogger