Headlines News :
Showing posts with label sport. Show all posts
Showing posts with label sport. Show all posts

Laga Krusial Demi Tiket Semifinal


 Para pecinta bola mania pasti akan sangat menantikan hasil dari laga krusial pertandingan leg kedua babak Perempat Final Liga Champion 2013. Antara Barcelona versus Paris Saint Germain (PSG) yang digelar di Camp Nou, kandang Barcelona. Sementara laga lainnya antara Juventus versus Bayer Munchen yang di gelar di turin italia (11/3/2013) dini hari. Kedua Laga ini akan menjadi penentu klub mana saja yang lolos ke Semifinal nanti. 


Jika kita melihat Hasil pertandingan Leg pertama lalu, antara PSG VS Barcelona di babak 8 besar (perempatfinal) Liga Champions 2013 berakhir dengan skor 2-2. Yang di gelar di stadion PSG di Parc des Prince, Rabu (3/4/2013) lalu. Maka kesempatan dan peluang kedua klub masih relatif sama. Bagi kedua klub leg kedua ini akan dimanfaakan secara maksimal untuk meraih kemenangan. Demi sebuah tiket ke babak semifinal nanti. Terlebih Barca yang bermain di kandang sendiri.

Dan di pertandingan perempat final lainnya, antara Juventus dan Bayer Munchen. Laga berat akan dilakoni Juventus saat menjamu Muenchen pada leg kedua perempat final Liga Champions, Rabu atau Kamis (11/4/2013) dini hari WIB. Kubu Juventus harus bekerja keras untuk bisa meraih skor besar setelah dipecundangi 0-2 di Die Roten di Stadion Allianz Arena, rabu (4/3/2013) lalu.

Meski bermian dikandang, Kesempatan Juventus cenderung lebih sulit bila dibanding dengan Bayer Munchen. Juve harus mampu memenangi pertandingan di kandang mereka dengan minimal skor 3-0 sedang kubu Munchen hanya butuh draw saja sudah dapat meloloskan mereka melaju ke semifinal menyusul Madrid dan Dortmund yang lebh dulu dapat tiket semifinal, di pertandingan kemarin. 

Namun, segala kemungkinan di sepakbola masih bisa terjadi. Kesempatan serta peluang masih terbuka lebar. Dan kita semua tahu semua klub yang bertanding di perempat final ini, adalah tim hebat dan terbaik di kancah sepak bola Benua Eropa. Dan yang pasti. Siapapun tim yang terkuat dan mampu meramu permainan yang menarik, merekalah yang layak dan pantas mendapatkan tiket ke semifinal nanti.
Salam Sepak Bola

silahkan baca juga disini

Menyibak Tabir Skandal Cinta Segitiga di PSSI


Admin/ITALIS YOGI TRISNA(KOMPAS IMAGES)
Pada beberapa bulan terkhir ini, publik dan pecinta sepakbola Indonesia telah diguncangkan dengan gonjang-ganjing skandal kisah cinta segitiga roy suryo, la nyala dan djohar arifin khusen. Kisah mereka sangat mengundang banyak opini dan asumsi di masyarakat, khususnya para penikmat bola dan suporter sejati di seluruh Indonesia. Kisah ini juga sangat booming di dunia media, baik lokal dan nasional bahkan internasional pun sangat mengikuti berbagai perkembangan kisah cinta segitiga mereka.

Kisah mereka dimulai saat Roy Suryo, didaulat sebagai menpora menggantikan Andi Malarangeng yang mengundurkan diri karena ditetapkan sebagai tersangka kasus Hambalang. Dengan begitu sebagai menteri yang baru, maka Roy suryo pun melaksanakan tugasnya sesuai dengan apa yang pernah dilakukan oleh Andi Malarangeng sewaktu masih menjabat sebagai menteri dahulu. Dalam hal ini melakukan koordinasi dengan para petinggi PSSI dan seluruh jajarannya.

Yang kebetulan pada waktu masih menjabat sebagai menteri dahulu. Keberadaan PSSI yang ada sangat memprihatikan, ada dualisme di tubuh PSSI dan disinyalir menjadikan kondosi PSSI yang sedemikian rupa. PSSI mempunyai dua nahkoda dan keduanya mempuyai arah dan tujuan masing-masing. Yang pastinya santa berbeda antara satu dan yang lainnya. Maka sangat sulit sekali, untuk menetukaan visi-dan misi PSSI secara jelas dan professional.

Dari bebrapa pertemuan dengan kedua pentolan PSSI, Jhohar Arifin (PSSI) dan La Nyala Mataliti (KPSI) ini, seiring waktu berjalan, dalam hati Roy Suryo pun mulai tumbuh benih-benih asmara yang tak terelakkan lagi. Namun, berkat kepiawaian LNM dalam melancarkan rayuan mautnya, akhirnya RS pun lebih memilih LNM dari pada jah sebagai pilihanya. Roy menilai LNM lebih gesit dan energik daripada Jhohar yang terkesan simple2 aja meskipun dialah yang legitimasi secara legal formalnya dalam PSSI sebagai wadah yang sah sepak bola Indonesia.
Namun, apa motivasi Roy sehingga dia harus menaruh hati pada LNM. Apakah Roy dijanjikan porsi lebih ataukah Roy beranggapan hanya LNM yang bisa dijadikan kawan untuk bias memuluskan kepentingannya. Namun, entahlah masyarakat sudah terlanjur men-klaim demikian. Tentunya dengan bukti adanya KLB 17 maret 2013 lalu dan semua keputusan KLB disinyalir lebih menguntungkan pihak LNM dengan KPSI-nya dan itu cukup dijadikan bukti secara mendasar oleh publik maupun pengamat sepakbola Indonesia.

Dan pada gilirannya publik semakin dibuat tidak percaya dengan keberadaan PSSI. Mengapa demikian? Karena PSSI yang secara legal pun tak didukung oleh Pemerintah. Aneh memeng. Malah condong ke KPSI yang Notabene secara legal formal tidak sah menjadi wadah bagi sepak bola Indonesia.

Aneh, memang tapi itulah yang sedang terjadi. Entah mau dibawa kemana sepak bola Indonesia kedepan. Publik harus cermat dalam menyikapi agar spekabola Indonesia tidak dipolitisir pihak tertentu dan salah arah. Dan ujung2nya sepakbola Indonesia tidak semakin maju malah semakin redup ditelan jaman. Tanpa prestasi apapun yang didapatkan.

Salam sepakbola

baca juga disini

Meninjau kembali PSSI hasil Tragedi KLB

Dalam sejarah sepakbola Indonesia, khususnya PSSI sebagai induk persepakbolaan di Indonesia. Baru kali ini kita menjumpai berbagai gejolak dan polemik yang panjang yang tak jua kunjung usai. Dualisme kepengurusan yang ada di tubuh PSSI. Disinyalir menjadi pemicu utama tetap langgengnya polemik itu terus bergulir dan bahkan sulit ditemukan solusinya.

PSSI sekarang masih telalu bias, samar dan campur aduk keberadaannya. Malahan belum bisa dikatakan sebagai wadah yang sangat ideal bagi dunia sepakbola Indonesia. faktanya masih banyak faksi-faksi yang ada di tubuh PSSI. Yang mana bila keadaan tersebut dibiarkan terlalu lama. Maka, tak ayal PSSI tak akan pernah bisa solid dan profesional dalam mengurus sepkabola. Justru yang ada malah perpecahan yang akan terjadi. Ujung-ujungnya mereka bukannya mendahulukan kepentingan sepakbola Indonesia secara utuh yang ada malah mendahulukan kepentingan golongan/kelompok tertentu. 

Disisi lain, Secara keseluruhan Masyarakat Indonesia. Sebagai penikmat dan pendukung sejati sepakbola Indonesia. Akan merasa semakin miris dan prihatin melihat kondisi tersebut. Bagaimana tidak, karena sebagian besar masyarakat merasa memiliki dan memimpikan tatanan PSSI dan persepakbolaan indonesia yang bagus dan profesional. Layaknya tatanan sepakbola di Negara maju yang ada dunia. walaupun ada juga sebagian kecil masyarakat yang tidak merasa risau dan gelisah akan virus (polemik) yang merasuk dalam tubuh PSSI ini. Namun, setidaknya itu bisa jadi catatan bagi PSSI saat ini, untuk melakukan perbaikan secara menyeluruh demi terciptanya PSSI dan sepakbola Indonesia ke depan lebih baik lagi. 

Pemerintah dalam hal ini, mengambil sikap menengahi antara kedua faksi di tubuh PSSI yang beberapa tahun ini santer di perbigangkan masyarakat indonesia. Dan mencoba memberikan solusi alternatif agar kedua faksi ini bersatu kembali. Karena jika hal itu, yakni dualisme PSSI (KPSI/PSSI) masih tetap ada. Indonesia akan mendapatkan sanksi dari FIFA bahkan terancam bisa di coret dari daftar FIFA. Dan ini tentunya sangat berat bagi pemerintah. Dan setelah mengalami proses yang panjang akhirnya kedua faksi itu mau duduk bersama dan bersepakat untuk bersatu kembali. Maka, kemudian digelarlah Konggres Luar Biasa (KLB) PSSI, pada Tanggal 17 Maret 2013 di Hotel Borobudur Jakarta lalu. 

Namun, apa yang terjadi. Kekisruhan dan dualisme PSSI masih membayangai PSSI hasil KLB kemarin. Walaupun secara resmi mereka telah melebur mejadi satu. Dan itu akan mempersulit bagi PSSI dan perkembangan Sepakbola Indonesia jika kondisi tetap sama seperti pra KLB dulu. Dan bukti yang masih segar adalah saat Indonesia lawan Arab Saudi kemarin. Praktis, faksi itu masih sangat kentara sekali. Misalnya dalam hal formasi pemain, yang sempat manjadi sorotan. Tanpa bermaksud menyudutkan (PSSI) bahwa itu sebuah kesengajaan yang tersistem, ataukah hanya faktor kebetulan semata. Dan Semoga itu hanya kebetulan saja. Meskipun ada pihak yang secara tersirat merasa dirugikan. 

Kemudian yang jadi pertanyaan dibenak masyarakat Indonesia adalah untuk apa KLB itu digelar jika faktanya faksi itu masih tetap ada? apakah hasil KLB itu benar adanya sebagai solusi? Dan itu menjadi topik yang hangat dan diperbincangkan di seluruh penjuru Indonsia. Terlebih pasca kekalahan Indonesia dari Arab Saudi kemarin. Sebuah tatanan PSSI yang apik dan profesional masih jauh dari yang diharapkan masyarakat indonesia secara umum. Dan fakta lapangan mengatakan bahwa PSSI belum secara maksimal menjadi PSSI yang seutuhnya. Ternyata PSSI hasil KLB hanya dalam bentuk semata belum secara substansi adanya.
 
Dan Impian masyarakat yang mendambakan sepakbola Indonesia bisa selangkah lebih maju dan berkualitas pun akhirnya harus tertunda kembali dan bahkan cenderung pupus jika kondisi dalam PSSI masih seperti itu.

Salam Sepakbola Indonesia 

bisa juga di baca disini

Konflik sepakbola Indonesia makin panjang


Pelaksana Tugas Menpora, Agung Laksono menilai PSSI melanggar kesepakatan bersama.




Kementerian Pemuda dan Olahraga menolak memberikan rekomendasi terhadap penyelenggaraan kongres PSSI di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Pelaksana tugas Menteri Pemuda dan Olahraga, Agung Laksono dalam konfrensi pers hari Minggu (9/10) di Jakarta mengatakan PSSI hingga saat ini belum memberikan verifikasi peserta yang akan hadir dalam kongres tersebut.
"Sampai sekarang tanggal 9 Desember pukul 14.30 verifikasi peserta anggota belum dilakukan oleh joint committee sehingga kami belum menerima hasilnya. Berkenaan dengan hal itu maka pemerintah belum dapat memberikan rekomendasi terhadap penyelenggaraan kongres di Palangkaraya," kata Agung Laksono.
Namun menurut Agung pemerintah tidak bisa melarang penyelenggaraan kongres tersebut.
"Kami tidak memiliki kewenangan untuk melarang namun kami tidak memberikan rekomendasi."
Agung mengatakan pemerintah telah berusaha untuk menghubungi pejabat di PSSI namun tidak ada satu pihak pun dari organisasi itu yang bisa dimintai keterangan soal hasil verifikasi kongres tersebut.
"Bahkan ada yang sulit dhubungi bagaimana ini saya sudah dari pagi dan pejabat di kemenpora dan kesra sengaja tidak diliburkan untuk ini."
Selain PSSI, Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia, KPSI juga berencana untuk menggelar kongres serupa namun pemerintah menurut Agung tidak akan menghadiri kongres yang akan digelar oleh keduanya.

Sikap PSSI

PSSI sejauh ini belum berencana mengubah rencana penyelenggaraan kongres yang akan berlangsung besok, sejumlah media di Jakarta melaporkan peserta kongres sudah mulai berdatangan hari ini.
Deputi Sekjen Bidang Kompetisi PSSI Saleh Mukadar tidak sependapat dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam menangani konflik sepakbola di Indonesia.
"Keputusan ini menguatkan stigma bahwa pemerintahlah yang membuat dualisme PSSI berkepanjangan, dia memberikan izin aktifitas organisasi ilegal semacam KPSI dan tidak mendukung yang legal seperti PSSI," kata Saleh dalam pesan pendeknya kepada Wartawan BBC Indonesia, Andreas Nugroho.
"Dalam sejarah sepak bola Indonesia atau kongres di negara manapun di dunia ini baru hanya di Indonesia, federasi diwajibkan menyetorkan hasil verifikasi peserta kongres pada pemerintah"
Saleh Mukadar
Saleh juga mengatakan bahwa penyerahan hasil verifikasi peserta kongres kepada pemerintah bukanlah keharusan.
"Dalam sejarah sepak bola Indonesia atau kongres di negara manapun di dunia ini baru hanya di Indonesia, federasi diwajibkan menyetorkan hasil verifikasi peserta kongres pada pemerintah."
PSSI sebelumnya diwajibkab oleh FIFA untuk menggelar kongres pada tanggal 10 Desember untuk menyelesaikan konflik yang terjadi di dunia sepakbola Indonesia.
Federasi sepakbola dunia itu mengancam akan menjatuhkan sanksi kepada Indonesia jika penyelenggaraan kongres itu gagal digelar oleh PSSI.
Konflik yang terjadi di dunia sepakbola Indonesia telah berdampak terhadap penampilan tim sepakbola nasional Indonesia.
Saat timnas Indonesia berlaga di ajang Piala AFF sejumlah pemain yang tergabung dalam klub di bawah KPSI dilarang untuk memperkuat timnas.
Kondisi ini membuat PSSI tidak bisa membentuk tim terbaik di laga tersebut dan berujung pada gagalnya Indonesia melewati babak penyisihan grup. 

50 Klub Sepakbola Terbaik Eropa Sepanjang Sejarah

50 Klub Sepakbola Terbaik Eropa Sepanjang Sejarah, inilah data yang baru-baru ini dirilis oleh situs Football Pantheon yang merilis generasi klub terbaik sepanjang masa. Situs ini ditulis oleh  Miguel Delaney, jurnalis sepakbola asal Irlandia yang tinggal di London dan bekerja bagi ESPN, The Independent, dan Irish Examiner. 
Ia merujuk pada data-data berupa gelar (piala), rekor dan kemenangan yang diraih oleh masing-masing klub. Adapun klub yang dimaksud adalah tim dari sebuah generasi emas dimasing-masing klub Eropa.
Berikut adalah daftar 50 Klub Sepakbola Terbaik Eropa Sepanjang Sejarah versi Football Pantheon:
1. Ajax Amsterdam (Era 1965 - 1973)
Poin: 1.575
Dengan total football yang begitu spektakuler, Ajax seolah memenangi setiap laga, setiap trofi, selama delapan tahun di akhir 60-an dan awal 70-an. Bukan hanya gelar, tapi performa Johan Cruyff dkk. yang begitu eksepsional hingga layak ditahbiskan sebagai klub terhebat sepanjang masa.
Prestasi: Piala Champions 1971, 1972, 1973; Liga Belanda 1966, 1967, 1968, 1970, 1972, 1973; Piala Belanda 1967, 1970, 1971, 1972; Runners-up Piala Champions 1969
Pelatih: Rinus Michels, Stefan Kovacs
Best XI (4-3-3): Stuy; Suurbier, Hulshoff, Vasovic, Krol; Neeskens, Haan, Muhren; Rep, Cruyff, Keizer
2. Real Madrid (Era 1953 – 1960)
Poin: 1.470
Lima juara Piala Champions dengan kemenangan 7-3 atas Eintracht Frankfurt yang jadi kulminasinya. Alfredo Di Stefano, Ferenc Puskas, Gento, dan Raymond Kopa membawa Real Madrid menjadi jawara yang tak tertandingi di masanya.
Prestasi: Piala Champions 1956, 1957, 1958, 1959, 1960; Liga Spanyol 1954, 1955, 1957, 1958
Pelatih: Enrique Fernandez, Jose Villalonga, Luis Carniglia, Miguel Munoz
 Best XI (3-2-5): Dominguez, Marquitos, Santamaria, Pachin, Munoz; Zarraga, Kopa, Rial, Di Stefano, Puskas, Gento
3. Liverpool (Era 1975 – 1984)
Poin: 1.300
 Bila Bill Shankly menjadi orang pertama yang membuat Liverpool sebagai juara secara rutin, maka Bob Paisley merupakan sosok yang mengantar The Reds juara tanpa ampun.
Prestasi: Piala Champions 1977, 1978, 1981, 1984; Liga Inggris 1976, 1977, 1979, 1980, 1982, 1983, 1984; Piala Liga1981, 1982, 1983, 1984; Uefa Cup 1976
Pelatih: Bob Paisley, Joe Fagan
 Best XI (4-4-2): Clemence; Neal, A Kennedy, Hansen, Hughes; R Kennedy, Souness, McDermott, Heighway; Keegan, Dalglish

4. Barcelona (Era 2008 – 2011)
Poin: 1.280
Disebut-sebut sebagai tim terhebat sepanjang masa. Kombinasi La Masia pada diri Leo Messi-Andres Iniesta-Xavi membawa Barca begitu menakutkan hingga pernah membantai Real Madrid 5-0 pada 2010 lalu.
Prestasi: Liga Champions 2009, 2011; Liga Spanyol 2009, 2010, 2011; Piala Spanyol 2009
Pelatih: Pep Guardiola
Best XI (4-3-3): Valdes; Dani Alves, Abidal, Pique, Puyol; Busquets, Xavi, Iniesta; Pedro, Messi, Eto’o
5. Bayern Munich (1971 – 1976)
Poin: 1.260
Era di mana Gerd Muller pernah mencetak 55 gol dalam semusim Bundesliga. Dengan Franz Beckenbauer, mereka juga menjadi satu dari hanya dua tim yang pernah juara Piala Champions tiga kali berturut-turut.
Prestasi: Piala Champions 1974, 1975, 1976; Liga Jerman 1972, 1973, 1974
Pelatih: Udo Lattek, Dettmar Cramer
Best XI (4-3-3): Maier; Hansen, Schwarzenbeck, Beckenbauer, Breitner; Roth, Zobel, Hoeness, Rummenigge, Muller, Kapellmann

6. Benfica 1959 – 1968
Poin: 1.165
 Dianggap sebagai cerminan Brasil 1970. Dimotori Eusebio, Benfica menguasai Eropa dengan taktik menyerang total di era di mana catenaccio begitu kental.
 Prestasi: Piala Champions 1961, 1962; Liga Portugal 1960, 1961, 1963, 1964, 1965, 1967, 1968; Piala Portugal1962, 1964; Runners-up Piala Champions 1963, 1965, 1968
Pelatih: Bela Guttmann, Fernando Riera, Lajos Czeizler, Elek Schwartz, Fernando Cabrita
Best XI (3-3-4): Periera; Mario Joao, Germano, Angelo; Cavem, Cruz, Jose Augusto, Eusebio, Aguas, Coluna, Simoes
7. Inter Milan 1962 – 1967
Poin: 1.145
Dengan sentuhan ajaib pelatih bertangan dingin Helenio Herrera, Internazionale menguasai Italia dan Eropa dengan strategi nan legendaris catenaccio.
Prestasi: Piala Champions 1964, 1965; Serie A 1963, 1965, 1966; Runners-up Piala Champions 1967Pelatih: Helenio Herrera
Best XI (5-2-3): Sarti; Burgnich, Facchetti, Picchi, Guarneri; Tagnin; Luis Suarez, Corso; Jair, Mazzola, Peiro
8. Celtic 1965 – 1974
Poin: 1.140
Era di mana Celtic menjuarai Liga Skotlandia sembilan kali berturut-turut. Di bawah pelatih legendaris Jock Stein, Celtic mencicipi Piala Champions 1967.
Prestasi: Piala Champions 1967; Liga Skotlandia 1966, 1967, 1968, 1969, 1970, 1971, 1972, 1973, 1974; Piala Skotlandia 1967, 1969, 1971, 1972, 1974; Piala Liga Skotlandia 1966, 1967, 1968, 1969, 1970; Runners-up Piala Champions 1970
Pelatih: Jock Stein
Best XI (4-2-4): Simpson; Craig, Gemmell, McNeill, Clark; Murdoch, Auld; Johnstone, Lennox, Wallace, Chalmers
9. AC Milan 1991 – 95
Poin: 1.135
Ada dua periode AC Milan di 90-an. Pertama era Arrigo Sacchi, dan kedua era Fabio Capello. Meski tak seatraktif Dream Team Sacchi, Milan Capello terbukti lebih sukses. Saat menjuarai Serie A 1992, mereka pernah mengalahkan Fiorentina 8-2 dan juara bertahan Sampdoria 5-1. Mereka pun sempat tak terkalahkan dalam 58 laga.
Prestasi: Liga Champions 1994; Serie A 1992, 1993, 1994; Runners-up Liga Champions 1993, 1995
 Pelatih: Fabio Capello
Best XI (4-3-1-2): Rossi; Tassotti, Maldini, Baresi, Costacurta; Donadoni, Desailly, Albertini, Boban, Savicevic, Simone
10. Torino 1945 – 1949
Poin: 1.110
Untuk menggambarkan kekuatan Torino di era ini, mereka pernah unggul 6-0 hanya dalam waktu 19 menit saat menghadapi AS Roma pada 1949. Bisa dibayangkan betapa dominannya mereka di Italia bila tidak ada tragedi kecelakaan pesawat Superga yang menewaskan pemain-pemain Torino di 1949.
Prestasi: Serie A 1946, 1947, 1948, 1949
Pelatih: Luigi Ferrero, Mario Sperone, Egri Erbstein
Best XI: Bacigalupo, Ballarin, Maroso, Grezar, Rigamonti, Castigliano, Menti, Loik, Gabetto, Mazzola, Ossola
11. Manchester United 2006 – 09
Poin: 1.095
Bila treble 1999 jadi puncak karier Sir Alex Ferguson di United, maka era ini merupakan periode tersukses sang pelatih legendaris di Setan Merah.
Prestasi: Liga Champions 2008; Liga Inggris 2007, 2008, 2009; Piala Liga 2009; Runners-up Liga Champions 2009
Pelatih: Alex Ferguson
Best XI (4-3-3): Van der Sar; Brown, Evra, Vidic, Ferdinand, Hargreaves, Carrick, Giggs; Rooney, Tevez, Ronaldo
12. Barcelona 1988 – 1994
Poin: 1.085
Bukan hanya AC Milan, Barcelona pun punya Dream Team di era 90-an. Barcelona berhasil mengimplementasikan total football modern dari pelatih Johan Cruyff.
Prestasi: Liga Champions 1992; Liga Spanyol 1991, 1992, 1993, 1994; Piala Spanyol 1990; Piala Winners 1989; Runners-up Liga Champions 1994
Pelatih: Johan Cruyff
Best XI (4-3-3): Zubizarreta; Ferrer, Sergi, Koeman, Nadal; Guardiola, Bakero, Beguiristain; Laudrup, Stoichkov, Romario.
13. Juventus 1976 – 1986
Poin: 1.070
Dinasti terlama sepanjang sejarah sepak bola Italia. Seperti dinasti Sir Alex Ferguson di United saat ini. Giovanni Trapattoni membuat Juve jadi tim menakutkan di era 80-an.
Prestasi: Piala Champions 1985; Serie A 1977, 1978, 1981, 1982, 1984, 1986; Piala Italia 1979, 1983; Piala Winners 1984; Uefa Cup 1977; Runners-up Piala Champions 1983
Pelatih: Giovanni Trapattoni
Best XI (4-4-2): Tacconi; Gentile, Cabrini, Brio, Scirea; Bonini, Tardelli, Platini, Boniek; Rossi, Bettega
14. Ajax 1993 – 96
Poin: 1.065
Generasi emas Ajax di era 90an. Apa yang dialami Barcelona sekarang merupakan representasi yang amat mirip dengan yang dialami Ajax kala itu: mendominasi dengan pemain akademi.
Prestasi: Liga Champions 1995; Liga Belanda 1994, 1995, 1996; Runners-up Liga Champions 1996
Pelatih: Louis van Gaal
Best XI (3-4-3): Van der Sar; Reiziger, F de Boer, Blind; Rijkaard, Seedorf, Davids, Litmanen, Finidi, Overmars, Kluivert
15. Bayern Munchen 1998 – 2003
Poin: 1.055
Banyak orang lupa betapa cepatnya tim ini bangkit dari kekalahan menyakitkan di final LC 1999 dengan menaklukkan Eropa tiga tahun kemudian dan juga mendominasi Jerman.
Prestasi: Liga Champions 2001; Liga Jerman 1999, 2000, 2001, 2003; Piala Jerman 2000, 2003; Runners-up Liga Champions 1999
Pelatih: Ottmar Hitzfeld
Best XI (3-4-1-2): Kahn; Sagnol, Lizerazu, Linke, Andersson, Kuffour; Jeremies, Effenberg; Scholl, Basler, Elber
16. AC Milan 1987 – 1991
Poin: 1.050
Inilah The Dream Team AC Milan. Seperti diucapkan pelatih legendaris Arrigo Sacchi “Bila ingin masuk sejarah, kemenangan saja tidak cukup, Anda juga harus menghibur.”
Prestasi: Piala Champions 1989, 1990; Serie A 1988
Pelatih: Arrigo Sacchi
Best XI (4-4-2): Galli; Tassotti, Maldini, Costacurta, Baresi; Colombo, Rijkaard, Donadoni, Ancelotti, Gullit, Van Basten
17. Juventus 1994 - 1998
Poin: 1.045

Tiga kali berturut-turut mencapai final LC. Pressing, taktik, dan kohesivitas superstar yang dibuat Marcelo Lippi membuat Juventus menjadi ‘team to beat’ di akhir 90-an.
Prestasi: Champions League 1996; Serie A 1995, 1997, 1998; Italian Cup 1995; Champions League runners-up 1997, 1998
Pelatih: Marcello Lippi
Best XI (4-3-3): Peruzzi; Torricelli, Pessotto, Ferrara, Iuliano; Deschamps, Sousa, Zidane; Del Piero, Ravanelli, Vialli
18. Hamburg 1978 –1983
Poin: 1.030
 
Disebut-sebut sebagai juara Liga Champions (1983) paling dinilai rendah. Padahal, mereka begitu hebat di Jerman dan ke final LC dua kali dalam empat tahun.
Prestasi: Piala Champions 1983; Liga Jerman 1979, 1982, 1983; Runners-up Piala Champions 1980
Pelatih: Branko Zebec, Ernst Happel
Best XI (4-3-3): Stein; Kaltz, Wehmeyer, Jakobs, Hieronymus; Rolff, Milewski, Magath; Keegan, Hrubesch, Bastrup
19. Olympique Marseille 1988 – 93
Poin: 1.020
Skandal pengaturan skor pada 1993 akan terus menghantui kehebatan tim OM satu ini yang berhasil menjadi juara Liga Champions di tengah dominasi the dream team AC Milan.
Prestasi: Liga Champions 1993; Liga Prancis 1989, 1990, 1991, 1992; Piala Prancis 1989; Runners-up Piala Champions 1991
Pelatih: Gerard Gili, Franz Beckenbauer, Raymond Goethals, Tomislav Ivic, Jean Fernandez
Best XI (4-4-2): Barthez; Angloma, Di Meco, Boli, Desailly; Sauzee, Deschamps, Pele, Waddle; Voller, Papin
20. Manchester United 1998 – 2001
Poin: 1.015

Drama dua gol injury-time di final Liga Champions tak mungkin terlupakan. Treble di musim 1999 puncak karier Sir Alex Ferguson di United.
Prestasi: Liga Champions 1999; Liga Inggris 1999, 2000, 2001; FA Cup 1999
Pelatih: Alex Ferguson
Best XI (4-4-2): Schmeichel; Neville, Irwin, Stam, Johnsen; Keane, Scholes, Beckham, Giggs, Yorke, Cole
21. Inter Milan 2008 – 2010
Poin: 1.010
 
Dengan menjuarai Serie A, Piala Italia, dan Liga Champions 2010, Internazionale jadi satu-satunya tim di Italia yang pernah meraih treble.
Prestasi: Liga Champions 2010; Serie A 2009, 2010; Coppa Italia 2010
Pelatih: Jose Mourinho
Best XI (4-2-1-3): Cesar; Maicon, Zanetti, Lucio, Samuel; Cambiasso, Mota; Sneijder; Eto’o, Pandev, Milito
22. Real Madrid 1964 – 1969
Poin: 1.005

Era baru Real Madrid pasca-tidak adanya lagi Ferenc Puskas dan Alfredo di Stefano. Pelatih Miguel Munoz sanggup membuat Pirri dan Amancio meneruskan prestasi seniornya.
Prestasi: Piala Champions 1966; Liga Spanyol 1965, 1967, 1968, 1969;
Pelatih: Miguel Munoz
Best XI (4-4-2): Araquistain; Pachin, de Felipe, Zoco, Sanchis; Pirri, Velazquez, Serena, Amancio; Grosso, Gento
23. Real Madrid 1984 – 1990
Poin: 1.000
 
Menjadi satu-satunya tim di Spanyol yang pernah menjuarai Liga Spanyol lima kali beruntun.
Prestasi: Liga Spanyol 1986, 1987, 1988, 1989, 1990; Piala Spanyol 1989; Uefa Cup 1985, 1986
Pelatih: Luis Molowny, Leo Beenhakker, John Toshack
Best XI (3-4-3): Buyo; Chendo, Camacho, Sanchis; Gordillo, Martin Vazquez, Michel, Schuster; Butragueno, Valdano, Hugo Sanchez
24. Red Star Belgrade 1987 – 1992
Poin: 995

Dalam buku Behind the Curtain ditulis bahwa Red Star Belgrade punya teknik brilian, permainan mengalir, kecerdasan mengatur tempo, dan organisasi yang superior.
Prestasi: Piala Champions 1991; Liga Yugoslavia 1988, 1990, 1991, 1992; Piala Yugoslavia 1990
Pelatih: Velibor Vasovic, Branko Stankovic, Dragoslav Sekularac, Ljupko Petrovic
Best XI (4-4-2): Stojanovic; Belodedici, Najdovski, Sabanadzovic, Marovic; Jugovic, Prosinecki, Mijajlovic, Binic; Savicevic, Pancev
25. Barcelona 2004 – 2006
Poin: 985

Gocekan maut Ronaldinho dan keganasan Samuel Eto’o mengantarkan Barca sukses menyihir Eropa.
Prestasi: Liga Champions 2006; Liga Spanyol 2005, 2006
Pelatih: Frank Rijkaard
Best XI (4-3-3): Valdes; Belletti, Van Bronckhorst, Puyol, Edmilson; Van Bommel, Xavi, Deco; Giuly, Ronaldinho, Eto’o
26. Barcelona 1958 – 1961
Poin: 980
Dengan Sandor Kocsis dan Luis Suarez, pelatih legendaris Helenio Herrera membawa Barca mampu melawan Real Madrid yang begitu dominan di era 50-an.
Prestasi: Liga Spanyol 1959, 1960; Piala Spanyol 1959; Fairs Cup 1958, 1960; Runners-up Piala Champions 1961
Prestasi: Helenio Herrera, Ljubisa Brocic, Enrique Orizaola
Best XI (4-4-2): Ramallets; Foncho, Gensana, Gracia, Verges; Garay, Kubala, Kocsis, Evaristo, Suarez; Czibor
27. Juventus 1930 – 1935
Poin: 970

Inilah tim pertama dan satu-satunya di Italia yang berhasil merebut Serie A lima kali berturut-turut.
Prestasi: Serie A 1931, 1932, 1933, 1934, 1935
Pelatih: Carlo Carcano
Best XI (2-3-5): Combi; Caligaris, Rosetta; Bertolini, Varglien, Monti; Cesarini, Ferrari, Sernagiotto, Orsi, Borel
28. Nottingham Forrest 1977 – 1980
Poin: 965

Pelatih legendaris Brian Clough berhasil membawa Nott’m Forrest dari tim level provinsi menjadi penakluk Eropa berkat pendekatannya yang unik.
Prestasi: Piala Champions 1979, 1980; Liga Inggris 1978; Piala Liga Inggris 1978, 1979
Pelatih: Brian Clough
Best XI (4-4-2): Shilton, Anderson, Clark, Lloyd, Burns; McGovern, Francis, Gemmill, Robertson, Woodcock, Birtles
29. Steaua Bucharest 1984 – 1989
Poin: 960

Inilah tim legendaris dari Rumania yang mencatat rekor 104 laga tidak terkalahkan di dalam negeri. Rekor yang masih bertahan hingga sekarang
Prestasi: Piala Champions 1986; Liga Rumania 1985, 1986, 1987, 1988, 1989; Piala Rumania 1985, 1987, 1988, 1989; Runners-up Piala Champions 1989
Pelatih: Emerich Jenei, Anghel Iordanescu
Best XI (4-4-2): Duckadam; Petrescu, Belodedici, Bumbescu, Iovan; Balint, Hagi, Boloni, Majearu; Lacatus, Piturca
30. Porto 2002 – 2004
Poin: 955

Dianggap beruntung menjuarai Liga Champions 2004 karena hanya menghadapi AS Monaco di final, tapi sesungguhnya skuad penuh determinasi Jose Mourinho ini sanggup meladeni tim manapun dari era kapanpun.
Prestasi: Liga Champions 2004; Liga Portugal 2003, 2004; Uefa Cup 2003; Piala Portugal 2003
Pelatih: Jose Mourinho
Best XI (4-3-1-2): Baia; Ferreira, Nuno Valente, Carvalho, Jorge Costa; Costinha, Maniche, Mendes; Deco; Derlei, Carlos Alberto
31. Feyenoord 1968 – 1974
Poin: 945

Tim Belanda pertama yang menjuarai Liga Champions.
Prestasi: Piala Champions 1970; Liga Belanda 1969, 1971, 1974; Piala Belanda 1969, 1974; Uefa Cup 1974
Pelatih: Ben Peeters, Ernst Happel, Wiel Coerver
Best XI (4-3-3): Graafland; Rijsbergen, Laseroms, Israel, Van Duivenbode; Jansen, Van Hanegem; Wery, Kindvall, Moulijn
32. PSV Eindhoven 1985 – 1989
Poin: 930

Guus Hiddink berhasil membawa era keemasan bagi PSV Eindhoven di Belanda dan Eropa. Pernah mencetak 117 gol di Liga Belanda musim 1988/89.
Prestasi: Piala Champions 1988; Liga Belanda 1986, 1987, 1988, 1989; Piala Belanda 1988, 1989
Pelatih: Guus Hiddink
Best XI (4-4-2): Van Breukelen; Gerets, Nielsen, Koeman, Heintze; Lerby, Van Aerle, Vanenburg, Linskens; Kieft, Romario
33. Real Madrid 1960 – 1964
Poin: 925

Inilah era di mana Ferenc Puskas dan Alfredo di Stefano yang mulai memasuki usia 30-an tahun dipadukan dengan wonderkid macam Amancio dan Fello.
Prestasi: Liga Spanyol 1961, 1962, 1963, 1964; Piala Spanyol 1962; Runners-up Piala Champions 1962, 1964
Pelatih: Miguel Munoz
Best XI (4-3-3): Vicente; Santamaria, Zoco, Sanchez, Pachin; Muller, Di Stefano, Felo; Gento, Amancio, Puskas
34. Borussia Monchengladbach 1969 – 1978
Poin: 915
Gelandang legendaris Jerman Gunter Netzer membawa Gladbach mampu mendominasi Jerman, padahal kala itu masih ada Franz Beckenbauer di Bayern Munich.
Prestasi: Liga Jerman 1970, 1971, 1975, 1976, 1977; Piala Jerman 1973; Uefa Cup 1975; Runners-up Piala Champions 1977
Pelatih: Hennes Weisweiler, Udo Lattek
Best XI (3-4-3): Kneib; Vogts, Klinkhammer, Wittkamp; Schafer, Netzer, Bonhof, Wimmer; Stielike; Heynckes, Simonsen
35. Real Madrid 1999 – 2003
Poin: 905
Back heel Fernando Redondo di perempatfinal melawan Manchester United dan tendangan voli Zinedine Zidane di final melawan Bayer Leverkuesen jadi ikon dari tim berjuluk Los Galacticos ini.
Prestasi: Liga Champions 2000, 2002; Liga Spanyol 2001, 2003
Pelatih: Vicente Del Bosque
Best XI (4-3-3): Casillas; Salgado, Roberto Carlos, Helguera, Hierro; Redondo, Zidane, it; Raul, Ronaldo, Morientes
36. St. Etienne 1973 – 1976
Poin: 890
Tim Prancis pertama yang sanggup mendominasi kompetisi domestik.
Prestasi: Liga Prancis 1974, 1975, 1976; Piala Prancis 1974, 1975; Runners-up Piala Champions 1976
Pelatih: Robert Herbin
Best XI (4-3-3): Curkovic; Repellini, Piazza, Lopez, Janvion; Bathenay, Santini, Larque; P Revelli, H Revelli, Rocheteau
37. Barcelona 1950 – 1954
Poin: 880
Inilah era di mana Barcelona punya pemain terhebat sepanjang sejarah klub hingga dibuatkan patungnya di Camp Nou, Ladislao Kubala.
Prestasi: Liga Spanyol 1952, 1953; Piala Spanyol 1951, 1952, 1953
Pelatih: Ferdinand Daucik
Best XI (3-4-3): Velasco; Tejada, Segarra, Gracia; Simatoc, Gonzalvo, Moreno, Kubala; Seguer, Manchon, Rodriguez
38. Chelsea 2004 – 2007
Poin: 860
Dianggap sebagai tim terbaik yang pernah ada yang tak pernah menjuarai Liga Champions. Jose Mourinho mampu mematahkan dominasi Manchester United dan Arsenal sekaligus di Inggris.
Prestasi: Liga Inggris 2005, 2006; FA Cup 2007; Piala Liga Inggris 2005, 2007
Pelatih: Jose Mourinho
Best XI (4-3-3): Cech; Ferreira, Gallas, Carvalho, Terry; Makelele, Lampard, Essien; Robben, Duff, Drogba
39. Liverpool 1985 – 1990
Poin: 845
Tragedi Haysel membuat tim ini gagal menunjukkan kehebatannya di Eropa. Pertanyaan yang selalu menggelitik ialah bila tak ada larangan, apakah John Barnes, Peter Beardsley, dan Ian Rush mampu mengatasi AC Milannya Arrigo Sacchi?
Prestasi: Liga Inggris 1986, 1988, 1990; FA Cup 1986, 1989
Pelatih: Kenny Dalglish
Best XI (4-4-2): Grobbelaar; Nicol, Beglin, Lawrenson, Hansen; Whelan, McMahon, Houghton, Barnes; Beardsley, Rush
40. Bayern Munich 1984 – 1990
Poin: 840
Era paling dominan dalam sejarah Bayern Munich di Bundesliga. Terima kasih kepada era keemasan Jerman di era 80-an.
Prestasi: Bundesliga 1985, 1986, 1987, 1989, 1990; Piala Jerman 1986; Runners-up Piala Champions 1987
Pelatih: Udo Lattek, Jupp Heynckes
Best XI (3-5-2): Pfaff; Nachtweih, Brehme, Augenthaler, Pflugler, Thon; Dorfner, Matthaus; Hoeness, Kogl, Voller.
41. Manchester United 1964 – 1968
Poin: 835
Sir Matt Busby babes. Dengan pemain kelas dunia seperti Sir Bobby Charlton, Denis Law, hingga George Best, United menjuarai Piala Champions 1968, 10 tahun pascatragedi Munich.
Prestasi: Piala Champions 1968; Liga Inggris 1965, 1967
Managers: Matt Busby
Best XI (4-4-2): Stepney; Dunne, Brennan, Foulkes; Stiles, Crerand, Charlton, Sadler; Best, Law
42. Real Madrid 1977 – 1981
Poin: 830
Dengan ikon seperti Jose Santillana, inilah tim Real Madrid pertama yang mencapai final Liga Champions setelah absen 32 tahun.
Prestasi: Liga Spanyol 1978, 1979, 1980; Piala Spanyol 1980: Runners-up Piala Champions 1981
Pelatih: Luis Molowny, Vujadin Boskov
Best XI (4-4-2) : Rodriguez; Cortes, Camacho, Sabido, Navajas; Stielike, del Bosque, de los Santas; Santillana, Cunningham
43. AC Milan 2002 - 2007
Poin: 825
Era di mana AC Milan punya lebih banyak gelar Eropa dibanding domestik. Saat menjuarai Liga Champions 2003, mereka menyingkirkan Bayern Munich, Borussia Dortmund, Real Madrid, Ajax, Inter hingga Juventus di final.
Prestasi: Liga Champions 2003, 2007; Serie A 2004; Piala Italia 2003; Runners-up Liga Champions 2005
Pelatih: Carlo Ancelotti
Best XI (4-2-2-2): Dida; Cafu, Kaladze, Nesta, Maldini; Gattuso, Pirlo; Seedorf, Kaka; Shevchenko, Inzaghi
44. Aston Villa 1893 – 1900
Poin: 820
Dinasti pertama dalam sejarah sepakbola internasional. Amat mendominasi seperti Barcelona di era sekarang.
Prestasi: Liga Inggris 1894, 1896, 1897, 1899, 1900; FA Cup 1895, 1897
Pelatih: George Ramsay
Best XI: Whitehouse, Spencer, Reynolds, Evans, Cowan, Crabtree, Athersmith, Devey, Campbell, Wheldon, Cowan
45. Porto 1984 – 1987
Poin: 810
Era di mana dua pemain terhebat sepanjang sejarah Porto bermain: Rabah Madjer dan Paulo Futre yang berbuah Piala Champions 1987.
Prestasi: Piala Champions 1987; Liga Portugal 1985, 1986
Pelatih: Artur Jorge
Best XI (4-3-1-2): Mlynarczyk; Joao Pinto, Inacio, Eduardo Luis, Celso; Quim, Magalhaes, Sousa, Madjer; Futre, Fernando Gomes
46. Preston North End 1888 – 1992
Poin: 805
Preston North End merupakan pemenang titel liga pertama di dunia. Sebelum Arsenal 2004, Preston-lah yang pertama invincible, atau 114 tahun sebelumnya.
Prestasi: Liga Inggris 1889, 1890; FA Cup 1889
Pelatih: William Suddell
Best XI (2-3-5): Mills-Roberts; Howarth, Holmes; Drummond, Russell, Graham; Gordon, Ross, Goodall, Dewhurst, Thomson
47. Arsenal 2001 – 2005
Poin: 780
Invincible Arsenal 2004 plus keganasan Thierry Henry dalam mencetak gol akan selalu diingat dalam sejarah. Namun, sayang gagal meneruskan dominasi mereka di Eropa.
Prestasi: Premier League 2002, 2004; FA Cup 2002, 2003, 2005
Pelatih: Arsene Wenger
Best XI (4-4-2): Lehmann; Lauren, Cole, Campbell, Toure; Gilberto, Vieira, Ljungberg, Pires; Bergkamp, Henry
48. Stade Reims 1952 – 1959
Poin: 770
Rival sengit Real Madrid di era-era awal Piala Eropa. Diperkuat tiga legenda hidup Prancis, Raymond Kopa, Michel Hidalgo, dan Just Fontaine.
Prestasi: Liga Prancis 1953, 1955, 1958; Piala Prancis 1958; Runner-up Piala Champions 1956, 1959
Pelatih: Albert Batteux
Best XI (4-4-2): Jacquet; Zimny, Jonquet, Giraudo, Leblond; Siatka, Hidalgo, Glowacki, Kopa; Fontaine, Vincent
49. Tottenham Hotspur 1960 – 1963
Poin: 765
Tim Inggris pertama yang memenangi trofi Eropa dengan membantai Atletico Madrid 5-1 di final Piala Winner 1963.
Prestasi: English league 1961; FA Cup 1961, 1962; Cup Winners Cup 1963
Pelatih: Bill Nicholson
Best XI (3-2-5): Brown; Baker, Henry, Blanchflower; Norman, Mackay; Jones, White, Smith, Greaves, Dyson
50. AC Milan 1954 – 1959
Poin: 755
Generasi emas pertama AC Milan dengan ikon seperti Juan Schiaffino serta duo Swedia Nils Liedholm dan Gunnar Nordahl.
Prestasi: Serie A 1955, 1957, 1959; Runner-up Piala Champions 1958
Pelatih: Hector Puricelli, Giuseppe Viani
Best XI (4-4-2): Buffon; Fontana, Cesare Maldini, Beraldo, Bergamaschi; Radice, Danova, Liedholm, Schiaffino; Grillo, Nordahl
 
sumber : www.beritabola.info

Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia



Didirikan 1930
Bergabung dengan FIFA 1952
Bergabung dengan AFC 1954
Presiden Djohar Arifin Husin
(9 Juli 2011–sekarang)
Situs web resmi www.pssi-football.com
Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia, disingkat PSSI, adalah organisasi induk yang bertugas mengatur kegiatan olahraga sepak bola di Indonesia. PSSI berdiri pada tanggal 19 April 1930 dengan nama awal Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia. Ketua umum pertamanya adalah Ir. Soeratin Sosrosoegondo.
PSSI bergabung dengan FIFA pada tahun 1952, kemudian dengan AFC pada tahun 1954. PSSI menggelar kompetisi Liga Indonesia setiap tahunnya, dan sejak tahun 2005, diadakan pula Piala Indonesia. Ketua Umum PSSI sejak 9 Juli 2011 adalah Djohar Arifin Husin.

Sejarah

Sejarah perkumpulan sepak bola di Indonesia

Di akhir tahun 1920, pertandingan voetbal atau sepak bola sering kali digelar untuk meramaikan pasar malam. Pertandingan dilaksanakan sore hari. Sebenarnya selain sepak bola, bangsa Eropa termasuk Belanda juga memperkenalkan olahraga lain, seperti kasti, bola tangan, renang, tenis, dan hoki. Hanya, semua jenis olahraga itu hanya terbatas untuk kalangan Eropa, Belanda, dan Indo. Alhasil sepak bola paling disukai karena tidak memerlukan tempat khusus dan pribumi boleh memainkannya.

Lapangan Singa (Lapangan Banteng) menjadi saksi di mana orang Belanda sering menggelar pertandingan panca lomba (vijfkam) dan tienkam (dasa lomba). Khusus untuk sepak bola, serdadu di tangsi-tangsi militer paling sering bertanding. Mereka kemudian membentuk bond sepak bola atau perkumpulan sepak bola. Dari bond-bond itulah kemudian terbentuk satu klub besar. Tak hanya serdadu militer, tapi juga warga Belanda, Eropa, dan Indo membuat bond-bond serupa.

Dari bond-bond itu kemudian terbentuklah Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB) yang pada tahun 1927 berubah menjadi Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU). Sampai tahun 1929, NIVU sering mengadakan pertandingan termasuk dalam rangka memeriahkan pasar malam dan tak ketinggalan sebagai ajang judi. Bond China menggunakan nama antara lain Tiong un Tong, Donar, dan UMS. Adapun bond pribumi biasanya mengambil nama wilayahnya, seperti Cahaya Kwitang, Sinar Kernolong, atau Si Sawo Mateng.

Pada 1928 dibentuk Voetbalbond Indonesia Jacatra (VIJ) sebagai akibat dari diskriminasi yang dilakukan NIVB. Sebelumnya bahkan sudah dibentuk Persatuan Sepak Bola Djakarta (Persidja) pada 1925. Pada 19 April 1930, Persidja ikut membentuk Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) di gedung Soceiteit Hande Projo, Yogyakarta. Pada saat itu Persidja menggunakan lapangan di Jalan Biak, Roxy, Jakpus.

Pada tahun 1930-an, di Indonesia berdiri tiga organisasi sepakbola berdasarkan suku bangsa, yaitu Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB)yang lalu berganti nama menjadi Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU) pada tahun 1936milik bangsa Belanda, Hwa Nan Voetbal Bond (HNVB) punya bangsa Tionghoa, dan Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI) milik orang Indonesia.

Memasuki tahun 1930-an, pamor bintang lapangan Bond NIVB, G Rehatta dan de Wolf, mulai menemui senja berganti bintang lapangan bond China dan pribumi, seperti Maladi, Sumadi, dan Ernst Mangindaan. Pada 1933, VIJ keluar sebagai juara pada kejuaraan PSSI ke-3.

Pada 1938 Indonesia lolos ke Piala Dunia. Pengiriman kesebelasan Indonesia (Hindia Belanda) sempat mengalami hambatan. NIVU (Nederlandsche Indische Voetbal Unie) atau organisasi sepak bola Belanda di Jakarta bersitegang dengan PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) yang telah berdiri pada bulan April 1930. PSSI yang diketuai Soeratin Sosrosoegondo, insinyur lulusan Jerman yang lama tinggal di Eropa, ingin pemain PSSI yang dikirimkan. Namun, akhirnya kesebelasan dikirimkan tanpa mengikutsertakan pemain PSSI dan menggunakan bendera NIVU yang diakui FIFA.

Pada masa Jepang, semua bond sepak bola dipaksa masuk Tai Iku Koi bentukan pemerintahan militer Jepang. Di masa ini, Taiso, sejenis senam, menggantikan olahraga permainan. Baru setelah kemerdekaan, olahraga permainan kembali semarak.

Tahun 1948, pesta olahraga bernama PON (Pekan Olahraga Nasional) diadakan pertama kali di Solo. Di kala itu saja, sudah 12 cabang olahraga yang dipertandingkan. Sejalan dengan olahraga permainan, khususnya sepak bola, yang makin populer di masyarakat, maka kebutuhan akan berbagai kelengkapan olahraga pun meningkat. Pada tahun 1960-1970-an, pemuda Jakarta mengenal toko olahraga Siong Fu yang khusus menjual sepatu bola. Produk dari toko sepatu di Pasar Senen ini jadi andalan sebelum sepatu impor menyerbu Indonesia. Selain Pasar Senen, toko olahraga di Pasar Baru juga menyediakan peralatan sepakbola.

Pengaruh Belanda dalam dunia sepak bola di Indonesia adalah adanya istilah henbal, trekbal (bola kembali), kopbal (sundul bola), losbal (lepas bola), dan tendangan 12 pas. Istilah beken itu kemudian memudar manakala demam bola Inggris dimulai sehingga istilah-istilah tersebut berganti dengan istilah persepakbolaan Inggris. Sementara itu, hingga 1950 masih terdapat pemain indo di beberapa klub Jakarta. Sebut saja Vander Vin di klub UMS; Van den Berg, Hercules, Niezen, dan Pesch dari klub BBSA. Pemain indo mulai luntur pada tahun 1960-an.

Sejarah PSSI

PSSI dibentuk pada tanggal 19 April 1930 di Yogyakarta dengan nama Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia. Sebagai organisasi olahraga yang lahir pada masa penjajahan Belanda, kelahiran PSSI ada kaitannya dengan upaya politik untuk menentang penjajahan. Apabila mau meneliti dan menganalisa lebih lanjut saat-saat sebelum, selama, dan sesudah kelahirannya hingga 5 tahun pasca proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, terlihat jelas bahwa PSSI lahir dibidani oleh muatan politis, baik secara langsung maupun tidak, untuk menentang penjajahan dengan strategi menyemai benih-benih nasionalisme di dada pemuda-pemuda Indonesia yang ikut bergabung.

PSSI didirikan oleh seorang insinyur sipil bernama Soeratin Sosrosoegondo. Ia menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Teknik Tinggi di Heckelenburg, Jerman, pada tahun 1927 dan kembali ke tanah air pada tahun 1928. Ketika kembali, Soeratin bekerja pada sebuah perusahaan bangunan Belanda, Sizten en Lausada, yang berkantor pusat di Yogyakarta. Di sana beliau merupakan satu-satunya orang Indonesia yang duduk sejajar dengan komisaris perusahaan konstruksi besar itu. Akan tetapi, didorong oleh semangat nasionalisme yang tinggi, beliau kemudian memutuskan untuk mundur dari perusahaan tersebut.

Setelah berhenti dari Sizten en Lausada, Soeratin lebih banyak aktif di bidang pergerakan. Sebagai seorang pemuda yang gemar bermain sepak bola, beliau menyadari kepentingan pelaksanaan butir-butir keputusan yang telah disepakati bersama dalam pertemuan para pemuda Indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928 (Sumpah Pemuda). Soeratin melihat sepak bola sebagai wadah terbaik untuk menyemai nasionalisme di kalangan pemuda sebagai sarana untuk menentang Belanda.

Untuk mewujudkan cita-citanya itu, Soeratin rajin mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh sepak bola di Solo, Yogyakarta, dan Bandung. Pertemuan dilakukan dengan kontak pribadi secara diam-diam untuk menghindari sergapan Polisi Belanda (PID). Kemudian, ketika mengadakan pertemuan di hotel kecil Binnenhof di Jalan Kramat 17, Jakarta, Soeri, ketua VIJ (Voetbalbond Indonesische Jakarta), dan juga pengurus lainnya, dimatangkanlah gagasan perlunya dibentuk sebuah organisasi sepak bola nasional. Selanjutnya, pematangan gagasan tersebut dilakukan kembali di Bandung, Yogyakarta, dan Solo yang dilakukan dengan beberapa tokoh pergerakan nasional, seperti Daslam Hadiwasito, Amir Notopratomo, A. Hamid, dan Soekarno (bukan Bung Karno). Sementara itu, untuk kota-kota lainnya, pematangan dilakukan dengan cara kontak pribadi atau melalui kurir, seperti dengan Soediro yang menjadi Ketua Asosiasi Muda Magelang.
Logo lama PSSI

Kemudian pada tanggal 19 April 1930, berkumpullah wakil dari VIJ (Sjamsoedin, mahasiswa RHS), BIVB - Bandoengsche Indonesische Voetbal Bond (Gatot), PSM - Persatuan sepak bola Mataram Yogyakarta (Daslam Hadiwasito, A. Hamid, dan M. Amir Notopratomo), VVB - Vortenlandsche Voetbal Bond Solo (Soekarno), MVB - Madioensche Voetbal Bond (Kartodarmoedjo), IVBM - Indonesische Voetbal Bond Magelang (E.A. Mangindaan), dan SIVB - Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond (Pamoedji). Dari pertemuan tersebut, diambillah keputusan untuk mendirikan PSSI, singkatan dari Persatoean Sepak Raga Seloeroeh Indonesia. Nama PSSI lalu diubah dalam kongres PSSI di Solo pada tahun 1930 menjadi Persatuan sepak bola Seluruh Indonesia sekaligus menetapkan Ir. Soeratin sebagai ketua umumnya.

sumber : wikipedia.org

loew : Jerman tetap pakai filosofi menyerang



Pelatih Jerman, Joachim Loew membantah dirinya membuang filosofi permainan cantik demi memetik kemenangan semata.
Der Panzer sudah memenangi ketiga laga mereka dan melaju ke perempat final Euro 2012 dengan status pemuncak grup. Namun banyak kritikus menyebut permainan anak asuh Loew tak secantik yang selama ini mereka peragakan.

"Apakah Anda menyindir bahwa kami bergeser dari filosofi kami? Saya tak sependapat. Kami tak bermain untuk merebut hasil imbang tanpa gol. Permainan kami tetap menyerang dan kami menjuarai grup yang ketat," ujarnya jelang laga delapan besar kontra Yunani.

"Kami kalahkan Belanda dan Portugal setelah belajar dari kebobolan lima gol lawan Swiss (di laga uji coba), di mana kami harus menemukan keseimbangan antara bertahan dan menyerang."

"Jika bermain lawan Brasil di laga persahabatan, maka Anda bisa mainkan permainan total menyerang yang menarik, tapi tidak di sebuah turnamen. Filosofi dasar saya yakni sepak bola menyerang tidak berubah. Kami meraih 9 poin dari grup maut jadi kami sudah meraih semua yang bisa diraih." (espn)
 
Support : Sudut Berita | Sudut Berita | SB Group
Copyright © 2011. SUDUT BERITA - All Rights Reserved
Template Edited by SB Crew Published by SB Crew
Proudly powered by Blogger